Ron Reeves

Ron Reeves

Multi-instrumentalis, komponis

Ron Reeves pernah main bersama Sydney Symphony Orchestra, Balet Nasional Australia, Opera Nasional Australia, Synergy (Australia), Okuta Percussion (pemenang penghargaan untuk rekaman “World Music” yang terbaik di Jerman),  AC/PVC, Karnataka College of Percussion (India), Jugala Group (Indonesia), Java Jazz, Lebe Olarinjo Masqueraders (Nigeria), Bill Cobham, Trilok Gurtu, Circus Fratellini (Perancis) dan masih banyak lagi. Dia juga mewakili Australia pada World Drum Festival (Festival Drum Sedunia) di Kanada dan di Expo 88 di Brisbane, Australia.

Ron telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Indonesia, dan sempat main bersama musisi jazz, rock, pop dan tradisionil, antara lain Jack Lesmana, Indra Lesmana, Dewa Budjana, Sawung Jabo, Oppie Andaresta, Ireng Maulana, Abadi Soesman, Jugala Group, Addie MS, Vina Panduwinata, Bubi Chen, Harry Roesli, I Wayan Sadra, dan masih terlalu banyak lagi untuk disebut disini. Pada tahun 1981 dia terpilih sebagai permain perkusi  #1 di Indonesia. Dia juga membentuk dua grup di Indonesia, yaitu Warogus dan Earth Music.

Walaupun paling dikenal sebagai pemain perkusi, Ron mengawali studi musiknya dengan mempelajari piano dan klarinet, dan sejak itu mulai terbentuk sebagai seorang multi-instrumentalis. Dia bermain bass guitar dengan Disney on Parade, didgeridoo dengan Toni Childs, keyboard dan blues harp dengan Earth Music, flute dengan Songket, khene dan sarunai dengan Warogus, guitar dengan Rien Djamain, dan masih banyak lagi. Selama tiga tahun terakhir dia mulai belajari tradisi nenek moyangnya sendiri, yaitu tradisi Hongaria, dan akan membawa dua alat tiup Hongaria – tarogato dan furulya – ke Festival Bunyi Bungi.

Kaluku Ntovea

PROFIL SANGGAR SENI KALUKUNTOVEA

Dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan budaya suku kaili serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah khususnya Desa Kalukubula Kecematan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi, banyak cara yang kita lakukan selaku pelaku seni, salah satunya mencari data dari sumber-sumber yang masih mengetahui kebuadayaan asli di tanah kaili, untuk itu merupakan tugas kami selaku generasi muda tanah kaili khususnya masyarakat Desa Kalukubula berinisiatif mendirikan sebuah organisasi yang bergerak dibidang seni dan budaya yang kami beri nama “SANGGAR SENI KALUKUNTOVEA”.

SANGGAR SENI KALUKUNTOVEA didirikan pada tanggal 05 september 2011 serta mendapat pengesahan dari bapak kepala Desa Kalukubula melalui Ketua Umum Dewan Kesenian Sigi (DKS) pada tanggal 07 juli 2012.

Sanggar Seni ini beranggotakan 40 orang dan terbagi dalam beberapa Divisi antara lain Divisi Musik, Tari, dan Teater.

Divisi musik sendiri telah melahirkan beberapa karya lagu antara lain yang berjudul Kalukuntovea Mojagai Ada, dan Keagungan-Mu.

Divisi Taripun telah mengikuti beberapa proses latihan tari antara lain tari perdamaian dan pontanu, begitu pula dengan Divisi Teater yang telah mementaskan nasakah teater yang berjudul Tanata Tana Kaili Karya Ashar Yotomaruangi, S.Sos. Beberapa karya tersebut telah dipentaskan dibeberapa acara dan event-event yang ada di Sulawesi Tengah.

Struktur Pengurus Sanggar Seni Kalukuntovea :

Adapun struktur pengurus inti Sanggar Seni Kalukuntovea  antara lain :

  • Ketua Umum         : Rif’an
  • Sekretaris         : Har
  • Bendahara          : Asniar,S.Kom
  • Divisi Musik       : Ma’ruf
  • Divisi Tari        : Amar
  • Divisi Teater      : Fatha

Wayan Pacet

Profil

Nama                           : I Wayan Sudiarsa (Pacet)

Jenis Kelamin               : Laki-laki

Alamat                         : Br Tengah Kangin, Peliatan, Ubud, Gianyar – Bali

Pengalaman Menggarap

–         Menggarap iringan tari untuk pergelaran Hibah Kompetensi di ISI Denpasar tahun 2008.

–         Menggarap Iringan Tari untuk mewakili ISI Denpasar dalam ”Pekan Seni Mahasiswa Nasional” di Jambi tahun 2008.

–         Menggarap musik bambu dalam Konser Bambu Nusantara Festival II di Bandung tahun 2008.

–         Menggarap Tabuh (musik) dan beberapa Iringan Tari untuk mengisi acara dalam ”Pesta Kesenian Bali” tahun 2008.

Karya Musik

–         Tuak Angelo (2004)

–         Tubuhku dan Kendiku (2008)

–         IndiBali (2008)

–         Rhythm Voice (2009)

–         Menanti Senyum Sang Ibu (2009)

–         IndiBali Jilid 2 (2010)

–         Cinta Tanah Air (2011)

–         Walking in the Garden, The View of the Town, “Di Musik Mencari”, Yowana Sun-Cita (2011)

–         Harmoni India Bali (2012)

Karya Musik Tari

–         Manuk Mangigel (2005)

–         Ala Ayu (2006)

–         Nesti, Swabawaning Urip, Merak (2007)

–         Candra Bhaerawa, Wisyaning Wakya, Metik Cengkeh (2008)

–         Danda Merta, Paregreg (2009)

–         Whratnala (2011)

–         Ekeng Tuas Sameng Rasa/Satu Rasa Menuju Keseimbangan (2011)

–         Mejangkrikan, Giri Putri, Bhuana Kerta (2012)

Tonda Talusi Performing Art, M.Nurdianzah,S.Sn

Konsep performance art “Tondatalusi”

Interpretasi M. Noerdianza

Idealisme komunal kehilangan makna

Sistem telah melangkah jauh dari bukti-bukti empiris.

Hanyutkan segala perasaan resah

Tanamkan harapan bahwa kita sebenarnya satu.

 

Sekilas tentang Perforamance art

Di Indonesia performance art muncul tahun 1975 seiring dengan adanya Gerakan seni rupa Baru. Pada awal kemunculannya sampai tahun 2000, performance art masih ”murni” menjadi seni garda depan. Kritis terhadap dunia seni rupa Indonesia dan muncul di jalan-jalan bersama mahasiswa dan masyarakat berdemonstrasi memperjuangkan nilai keadilan. Ketika muncul warna baru dalam seni rupa (media art dan new media art) yang lahir dari persinggungan seni dan teknologi, performance art mengalami perkembangan. Dalam perkembangan dunia seni rupa kontemporer Indonesia dewasa ini, khususnya karya-karya yang bersinggungan dengan perkembangan teknologi, New Media Art (seni media baru) adalah salah satu contohnya. Dalam konteks seni, penggunaannya sering dipahami sebagai tawaran kemungkinan baru dalam menciptakan atau mengalami kesenian. Salah satunya adalah adanya perubahan bentuk performance art menjadi multimedia performance dan yang terakhir berubah bentuk menjadi video performance. Video performance, lahir dari sejarah panjang perkembangan performance art. Selain persoalan perpaduan seni dan teknologi yang mendorong metamorfosisi (perubahan bentuk) performance art menjadi video performance seperti di atas.Tulisan ini juga membahas aspek-aspek sosial seiring kemunculan dan perkembangan performance art di Indonesia. Pertama performance art sebagai seni penyadaran dan perlawanan dengan cara mengembangkan kembali realitas sosial dan kemapanan seni rupa itu sendiri. Kedua adanya wadah dalam praktik pemberitaan kilat secara luas (termasuk Indonesia) yang membelokkan arah perjuangan. Ada juga jenis performance art dari wadah penyadaran menjadi seni periklanan untuk kepentingan pasar.

 

“Tondatalusi” dalam pengertian ilmiah

Adalah tiga tungku penyangga dan penyeimbang apabila salah satu di antaranya tidak ada, maka wadah yang berada di atasnya tidak akan berdiri tegak alias miring bahkan jatuh dan hancur. Tungku  sebagaimana kita ketahui adalah tempat atau wadah yang dipakai untuk memasak makanan sampai benar-benar matang dan siap saji. Tungku yang berbentuk segi tiga tentunya menghadirkan tiga lubang pula atau celah, tempat di mana kayu tersebut akan dibakar, mengeluarkan percikan bara api yang siap mematangkan masakan dan siap untuk disajikan.

Tondatalusi dalam pengertian “tradisi”.

Secara filosofis tiga Tungku dalam pengertian tradisi sebagai berikut: sebagai simbol penyangga dan penyeimbang antara Adat, Agama, dan Pemerintah. Sebagai simbol pertemuan, dalam bahasa Kalili disebut nolibu. Tujuan daripada nolibu ini tidak lain adalah sebuah sikap kebersamaan untuk saling menyokong sebuah perencanaan, untuk pencapaian sebuah ke-bersama-an menuju KEDAMAIAN. Berikut penjelasan secara spesifik mengenai sistem tradisi Tondatalusi. “Tradisi” adalah ajaran yang diajarkan secara turun temurun dan memiiki ciri khas darah tertentu, Sistem tradisional antara lain individu dan masyarakat tidaklah merupakan objek, tetapi subjek yang turut menentukan arah kehidupan. Sistem Agama adalah sistem yang baku yang tidak bisa diubah agamalah dasar pijak kehidupan. Dan kebenarannya tak diragukan lagi. Sistem pemerintahan adalah sistem politik modern yang memiliki tiga unsur, di antaranya Demokrasi, Konstitusional, dan Berlandaskan hukum. Demokrasi adalah kebebasan individu dalam berpendapat, Konstitusional ialah aturan dasar yang ditempuh melalui kesepakatan. Sementara Hukum itu sendiri mewadahi perbedaan paham dan pandangan, serta mengatasinya dengan cara beradap dan damai, dalam aturan yang disepakati bersama.

Pembenturan Tondatalusi dalam konteks modern           

Gagasan ini tercipta dari kegelisahan serta rasa takut yang mencekam. keutamaan sistem sosial antar individu telah melangkah jauh dari aturan-aturan dan hubungan antara satu dengan yang lainnya, lebih bersifat impersonal menjadi lebih pre-dominan. Bahwa kebersamaan me-nampak-kan kesenjangan sosial,  semata-mata tidak ada lagi yang saling percaya, idealisme komunal kehilangan makna. Krisis identitas terus merebak kesegala pelosok desa, konflik berkepanjangan tanpa henti bahkan berpindah dari satu tempat ketempat lain, dari satu desa ke desa lain., tradisi Tondatalusi kenangan masa lampau yang terlupakan, akal dan pikiran beku sementara hati menjadi batu, tidak lagi menunjukkan sikap saling menerima, menghayati antara satu dengan yang lainnya, hilangnya sikap kebersamaan untuk saling menyokong sebuah perencanaan.

Alur cerita

Perfom ini berawal pada suara menyayat lengking, seiring tubuh kegelisah, tubuh takut, tubuh asing, seakan ingin mengurung diri jauh dari manusia lain. Namun pandangan ini keliru. Harus turun ke jalan menyampaikan perasaan bahwa kita adalah satu. Penyatuan ideologi itu tidaklah semudah tarian kata, butuh pengorbanan, butuh perjuangan dan nafas panjang. Menyatukan batu, satu demi satu dengan menampakkan tubuh lelah, tubuh lemas, tubuh lunglai. Tubuh terus memaksa diri untuk menyatukannya sehingga membentuk segitiga sebagai dasar pijak sebuah wadah. Lembaran kertas kosong bertuliskan “Apa yang kalian rasakan ketika mendengar kecamuk tikai suara-suara?” biarkan penonton menjawabnya dengan satu ukiran kata.

Tiga harus menyatu

Dua

Satu tersudut

Satu

Dua curiga

Menyatulah kembali tiga

 

Akal… Pikiran… Beku… Hati jadi Batu

Mencairlah… Leburkan menjadi satu

Hanyutlah…. bersama air… yang mengalir

 

Semiotika dalam pertunjukan.

Tiga tungku disimbolkan dengan 3 buah batu. Batu bentuknya padat dan keras menggambarkan sifat keras manusia.

Gentong adalah simbol atau wadah yang digunakan untuk menampung perasaan manusia ketika berhadapan dengan peristiwa realitasnya. Menghanyutkan gentong ke Rano Bungi…sebagai simbol membuang segala bentuk bencana.

Pesan Moral

Pesan moral dapat diartikan sebuah nasehat atau ajakan tentang ajaran baik dan buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan dan sikap manusia. Dengan demikian pesan moral dalam performance art “Kebersamaan Menghanyutkan Rasa Takut dan Derita”. Performance ini bukan hiburan yang memanjakan penonton, melainkan sebuah kritik terhadap realitas sosial. Kita sendiri seolah saling menelanjangi, saling membuka aib melupakan etika, hilangnya kebersamaan antara adat agama dan pemerintah untuk saling mengisi dan berbagi gagasan-gagasan demi kemajuan bangsa. Bukan merasa diri sok suci dari individu lain. Manusia hanya bisa saling mengingatkan, saling menopang demi terciptanya pembangunan karakter individu. Terwujudnya pembangunan karakter individu akan mewujudkan karakteristik suatu bangsa. Meskipun demikian kita tak dapat menyangkal bahwa kita tidak bisa lepas dari sistem-sistem yang telah dibuat dan telah disepakati bersama. Satu-satunya cara membuat sistem di dalam sistem, dengan sistem cinta. Hanya dengan sistem cinta tentu kita akan tersentuh untuk menjaga kelestarian, kekhasan, keunikan dan menghargai tradisi budaya di tanah Kaili.

Biografi Penulis

 

Moh.Nurdiansyah Lahir di kota Palu, 14 Oktober 1979 menikah dengan Nurul Jamilah, dikaruniai anak lelaki bernama Miftakhul Abdussalam. Pendidikan terakhir S-1 (satu) Teater Minat Utama Penyutradaraan Institute Seni Indonesia Yogyakarta.Tahun 2008. Mulai mengenal seni teater Tahun 1996, dan berperan dalam lakon “Sando”, karya Hidayat Lembang di Taman Gor Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 1997, pentas Naskah “Tomanuru” karya Musa Abd Kadir sebagai pemain. Tahun 2000, pentas teater dalam Festival Alimin Award naskah “Lysistrata” karya Sophoclas sebagai Walikota bertempat di Auditorium RRI Kota Palu meraih Aktor terbaik. Tahun 2001, berperan sebagai Alimin dalam naskah “DOR” karya Putu Wijaya. Tahun, 2003, pentas “Tomanuru” naskah dan sutradara Musa Abdul Kadir, dalam “Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta”. Tahun 2004, bergabung dengan sanggar teater Debur 21 Yogyakarta sebagai Aktor pentas di tiga Kota (Bandung, Surabaya, Yogyakarta). Naskah “Jangan Kau Culik Anak Kami” Sutradara dan penulis Alan Papin warga Negara Prancis.Tahun 2004 bergabung sekaligus sebagai salah satu pendiri teater Sawung Dupat. Tahun 2008 bergabung dengan sanggar Teater Lampu Pleret Yogyakarta.

Menyutradarai dan menulis naskah

Diawali Tahun 2004, dalam naskah “Parodi Taiganja” di pentaskan di Auditorium RRI Kota Palu. Tahun 2003, sebagai sutradara, pemain dan penulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala” di pentaskan dalam acara Artefak Donggala di Sulawesi Tengah. Sutradara dan penulis naskah “Tondatalusi” dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya pada Festival Soerabaya Djoeang. Tahun 2010, Sutradara dan penulis naskah “Balada Orang Sampah” dipentaskan di Taman Budaya Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 2011, menulis dan menyutradarai naskah “TARIAN KATA PEMIMPIN”, dipentaskan di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2011, menyutradarai dan menulis naskah Monolog “Tusuk Gigi”, dipentaskan pada hari Aids Se dunia di Gedung Balai Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2012, Menulis dan Menyutradarai Naskah “Panoto Muli”, dipentaskan di Gedung Olah Seni Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2012 kembali menyutradarai “Panoto Muli” dipentaskan pada acara temu teman di Kampus Stain Purwokerto.

Tahun 2006, sutradara lakon “Sahabat Terbaik” karya James Saunders dipentaskan di stage teater ISI Yogyakarta. Tahun 2006, sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #1 karya Jean Tardieu pentas di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, Sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #2  karya Jean Tardieu dipentaskan di Teater Arena ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #3 karya Jean Tardieu di pentaskan di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara dan Aktor dalam lakon “Roro Mendut Jelas Salah” karya Wimbadi JP. Dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2009, Asisten Sutradara dan Stage maneger dalam naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bagdi Soemanto dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2010, Sutradara naskah “Lawan Catur” karya Keneth Arthur dipentaskan pada Festival Teater Pelajar Tingkat Nasional Se- SMA di IKIP PGRI Semarang dan mendapat tiga Nominasi (pembantu Aktor terbaik, Aktris terbaik, Penyaji terbaik). Tahun 2010, sutradara naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya dalam Festival Negarakreatagama. Tahun 2010.

 

Pada akhir 2010, menata Artistik dan Aktor dalam naskah “Awas” karya Putu Wijaya ditulis kembali dan disutradarai oleh Ibet pada acara “Mimbar Teater” di teater Bong Taman Budaya Surakarta. Tahun 2011 Menyutradarai dua naskah sekaligus,tema “Semalam Dua Karya”, yakni “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht. Terjemahan Frans Rahardjo. “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto.Tahun 2011, Menyutradarai naskah berbahasa Kaili “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi di pentaskan keliling di kota dan kabupaten. Tahun 2012 menyutradarai monolog “Topeng-Topeng” karya Rahman Sabur.

Selain Aktor dan sutradara teater, juga mendalami bidang Artistik, yakni Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Come and Go” di Kedai Kebun Yogyakarta. Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Kereta Kencana” karya Iogene Ionesco di Stage Teater ISI Yogyakarta.Tahun 2009, penata lampu pentas Monolog “Merdeka” karya Putu Wijaya pada Festival Kesenian Yogyakarta, di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2008, Penata panggung naskah “Abu” sutradara Daniel Exaudi dalam Tugas Akhir penyutradaraan di Sage Teater ISI Yogyakarta.

Dalam bidang sastra Tahun 2001, mengikuti “Lomba Cipta Puisi Mencari Jejak” dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Palu sebagai peserta. Tahun 2002,  menulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala” Tahun 2003 menulis Naskah Teater “Belenggu Air”, Tahun 2004  menulis naskah “Parodi Taiganja”,  Tahun 2009 Menulis naskah Teater “Tondatalusi”, , Tahun 2010,  menulis naskah “Balada Orang Sampah”, Tahun 2011 menulis naskah “Tarian Kata Pemimpin. Tahun 2011 Menulis Naskah Monolog “Tusuk Gigi”, Tahun 2012, Menulis Naskah “Panoto Muli”.

Prestasi yang diraih, Tahun 2000, sebagai Aktor terbaik Festival Alimin Award. Tahun 2001, Harapan 1 Lomba Cipta Puisi “MencariJejak”, Tahun 1999, Juara 1 lombacipta lagu pada Festival Musik Akustik di Kota Palu. Pengalaman dalam bidang Musik. Tahun 2001, bergabung dengan sanggar tari tradisi Cemara Vaino Kota Palu sebagai penatamusik tari. Tahun 2003, bergabung dengan Komunitas Seni Tadulako pentas music etnik Kontemporer “Kumpul Kempel Kampus” di Teater Kecil Surakarta, sebagai penabuh gendang, Tahun 2003, pentas music kontemporer “Lima Cara Lima Suara” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Tahun 2004, Ilustrasi music teater “Kereta Kencana” mayor Vocal dan suling, sutradara Erwin Sirajudin. Tahun 2004, Penata musik puisi “Mainang” karya Iyak dipentaskan dalam acara pentas perdana sanggar Sawung Dupat di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, penata musikalisasi puisi “Sepasang Pengantin” karya Iyak dalam acara temusastra UGM.Tahun 2011 Penata Musik Tari S-2 dengan tema lingkungan di sungai halaman Joko Pekik.Tahun 2011 Penata Musik Teater S-2 sutradara Silvi Purba (Dosen ISI).

2010 “Topogente”  (Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah)

Naskah Ashar Yotomaruangi Aktor Sutradara M.Noerdianza

Lawan catur Ensamble

Di maksudkan untuk menghadirkan sebuah kelompok yang secara khusus menangani persoalan ilustrasi musikal untuk teater. Inilah gagasan awal sampai lahirnya kelompok ini. Saat sebelum terbentuknya pun setiap individu di kelompok ini memang telah beberapa kali terlibat dalam proses penggarapan musik untuk keperluan dalam teater. Kelompok ini tidak hanya berdiri pada satu bidang ekspresi  jika kita melihat dari nama yang lebih mengacu kepada istilah dalam musik itu sendiri. Dalam perjalanannya yang setiap waktu sering berkutat pada ilustrasi musik dalam pementasan teater, secara tidak langsung garapan karya musik secara khusus lebih mengacu kepada posisi saat bagaimana adegan per adegan diperkuat oleh kehadiran bunyi-bunyian dalam teater itu sendiri dengan tidak melupakan pijakan – pijakan dasar dari penciptaan sumber bunyi saat kita menafsir kembali konsep tradisi di dalamnya.

60411_1348856896208_4319542_nPIJAKAN KARYA

Masuknya Islam serta proses Islamisasi tidak mempunyai pola yang seragam di berbagai kepulauan di Indonesia. Untuk itu, terjadi perbedaan yang mencolok mengenai pemahaman dari berbagai sudut mengenai masuknya Islam di suatu daerah bahkan sampai pada proses Islamisasinya. Berbicara mengenai masuk dan berkembangnya Islam di berbagai daerah, ada beberapa hal yang harus dijabarkan didalamnya, yakni proses masuk, pembawa ajaran, penerimaan masyarakat yang meskipun mempunyai tantangan dalam pengajarannya karena kepercayaan lama berupa sistem kepercayaan tradisionalistik menjadi penghalang utama, bahkan sampai pada perubahan yang dihasilkan Islam itu sendiri.  Secara umum, proses masuknya Islam di Sulawesi Tengah menggunakan jalur laut, setelah itu melalui darat. Hal mendasar yang menjadi alasan adalah karena ribuan pulau yang ada di Indonesia sejak lama telah menjalin hubungan antar pulau melalui jalur pelayaran, baik dengan motivasi ekonomi maupun kepentingan kekuasaan. Dengan adanya hubungan ini pula yang mengantar ajaran (dakwah) Islam menembus pulau Sulawesi, tidak terkecuali Sulawesi Tengah. Pada bagian lain juga, masyarakat Sulawesi Tengah menerima ajaran ini tanpa paksaan, dan paling menarik adalah perubahan yang dihasilkan oleh Islam itu sendiri. Perkembangan agama Islam di daerah Sulawesi Tengah secara kronologis yang pertama memeluk ajaran Islam adalah raja dan keluarganya (bangsawan-bangsawan) yang biasa disebut Madika. setelah itu barulah tersebar ke masyarakat umum.Ini berarti bahwa tonggak-tonggak awal islamisasi di Sulawesi tengah telah tertanam dengan kokoh dan kemudian sebagian besar kerajaan di Sulawesi Tengah telah menganut ajaran Islam. Ajaran agama Islam yang datang ke Sulawesi Tengah mengalami masa perkembangan yang bertahap. mula-mula dianut oleh masyarakat yang berdiam di pesisir, kemudian makin meluas ke arah pedalaman.

Wilayah Sulawesi Tengah, pemeluk pertama ajaran Islam adalah kerajaan Buol dan Banggai yang diperkirakan masuk sekitar pertengahan abad ke-16 yang dimana kedua kerajaan ini mendapatkan pengaruh dari kesultanan kerajaan Ternate yang telah menerima agama Islam pada abad ke-15. Sedangkan ajaran tersebut masuk di Tanah Kaili pada permulaan abad ke-17 (tahun 1603) yang di bawa oleh dua orang mubaligh berasal dari minangkabau. Daerah Palu dibawa oleh Abdul Raqie dengan gelar Datuk Karama dan untuk wilayah pantai timur Kabupaten Donggala dibawa oleh Datuk Mangaji. Abdul Raqie datang dengan rombongan dari minangkabau yang kurang lebih berjumlah 50 orang di muara Teluk Palu (Karampe) menggunakan sebuah peraho kora – kora. Rombongan tersebut dipimpin oleh Abdullah Raqie yang kemudian dikenal dengan gelar Dato Karama. Beliau membawa serta istri, ipar, dan anaknya. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya seperti Bendera Kuning, Panji Orang-Orangan, Puade, Jijiri, Bulo, Gong, dan Kakula (Kulintang). Kedatangan Dato Karama di Lembah Palu disambut dengan baik oleh masyarakat Lembah Palu bahkan kedatangannya disambut oleh dua bangsawan Lembah Palu saat Itu yaitu Parasila atau Pue Njidi dan I Moili atau Pue Bongo. Parasila atau Pue Njidi merupakan raja Kabonena. Pue Njidi dan Pue Bongo kemudian memeluk Islam diikuti oleh masyarakat Lembah Palu pada proses yang dilakukan oleh Dato Karama berpusat pada sebuah mesjid yang didirikan atas dukungan masyarakat (penduduk) di sekitar masjid tersebut. Masjid ini diberi nama masjid Jami dan berada di wilayah kelurahan Kampung Baru sekarang. Kemudian dilanjutkan dengan penyiaran Agama Islam yang berasl dari Arab, bernama Sayed Idrus Bin Salim Al-Djufrie atau yang populer di panggil Guru Tua pada kurang lebih abad ke-20 membawa pengaruh organisasi Syarikat Islam (SI) disusul dengan berdirinya Perguruan Islam Alkahiraat sejak tahun 1930 yang menyebabkan  penyebaran Agama Islam berkembang dengan pesat hingga ke pelosok-pelosok desa di Sulawesi Tengah. Disamping itu, selisih tahun antara kedatangan Datokarama dan Guru Tua yang terpaut lebih dari tiga abad, Islam dikembangkan oleh para mubaligh maupun pedagang yang berasal dari Mandar, Bugis, dan Makassar. Kedatangan para mubaligh dan pedagang dari Mandar, Bugis dan Makassar ini telah kita lihat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat islam Sulawesi Tengah seperti, model mengaji huruf ugi, barasanji, dan yang utama adalah eksistensi kebudayaan “selatan” yang mengalami akulturasi dengan budaya Sulawesi Tengah.

PENGHADIRAN BUNYI

Kami menyimpulkan bahwa Kedatangan Islam ini membawa pembaharuan “peradaban” di Kota Palu. Ini yang coba di transfer menjadi satu bentuk pertunjukan musik yang dimana penghadiran bunyi di karya ini dalam penggambarannya secara musikal lebih menuju kepada perubahan sebelum dan masuknya ajaran Islam itu sendiri sampai kepada bagaimana pengimplementasiannya di kehidupan sekarang dengan tidak terlepasnya pendekatan bunyi – bunyian serta vokal – vokal dari beberapa tradisi dan kebudayaan masyarakat Kaili yang mempunyai kaitan dengan penggambaran dari suasana yang coba dihadirkan dari beberapa bagian dalam pertunjukannya.  Secara bentuk fisik, ada beberapa instrument pendukung yang coba dihadirkan yang terlepas dari alat – alat tradisi di daerah ini. Ini bukan menjadi masalah, kenapa tidak jika instrument itu digunakan untuk memperjelas suasana yang coba dihadirkan dalam garapan ini, dan itu sah – sah saja selama dalam penyampaian bunyi itu sendiri pada akhirnya di terima oleh pendengar.

“MEMOAR LEKATU” (iin ainar & ipin kevin)

Pertunjukan Kolaborasi Tari – Monolog “MEMOAR LEKATU” (iin ainar & ipin kevin)

Memori sebuah kata yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali (ingatan).  Memori bisa membuat seseorang kembali teringat akan masa lalunya, entah itu kemudian membuatnya bahagia atau bahkan terpuruk dalam kesedihan.

Ketika sebuah rasa ketakutan atas memori atau ingatan selalu hadir dalam diri anda, yang terjadi adalah traumatik akan satu peristiwa sehingga membuat anda tidak ingin mengingat sesuatu itu ataupun mendatangi kembali tempat tersebut.

Memori di masa kecil ternyata tidak mampu memberikan sebuah keberanian yang besar untuk kembali ke sebuah tempat dimana dahulu merasa bahagia, tertawa tanpa beban, bermain bersama teman-teman, berlarian dengan bebas, menikmati dinginnya hawa dan bermain air sepuasnya.

Dahulu tempat ini begitu menyenangkan dan menenangkan, walaupun dipenuhi pepohonan, serta ilalang juga tanaman-tanaman liar namun tetap terkesan tidak menyeramkan untuk siapa saja yang mendatanginya.  Tempat ini menjadi berkumpulnya warga di kampung ini, berada ri bivi nu ngata, tempat ini selalu ramai dengan warga yang melakukan aktivitas keseharian mereka disini, mandi, berkebun, memandikan kuda dan sapi, memberi makan kambing, tempat dimana para ibu-ibu ataupun gadis-gadis mencuci, dan tentunya tempat kami menghabiskan sisa hari bermain-main sepuasnya.  Sebuah tempat menyenangkan di masa kecil itu bernama bungi tava nu juka atau lebih sering disebut bungi lekatu.  Sebuah surga bermain bagi kami dulunya dei nu ngata.

Bungi kini menjadi tempat yang dipenuhi rasa ketakutan dan setiap berada disini ketenangan yang dulu ada berganti dengan kecemasan. Berjalan diantara kegelisahan, menyusuri tempat yang dulunya tenang.  Suara-suara air seolah kini terdengar seperti suara panah yang akan dilesatkan dari busurnya.  Keceriaan dan keriangan diantara rerumputan serta tanaman liar berubah menjadi rasa was-was seolah-olah yang terdengar suara kaki orang-orang berlarian mengejar musuh atau untuk menyelamatkan diri.  Traumatik pada telinga ini akan dentuman dum-dum yang setiap saat berbunyi, membuatku tak ingin lagi ke tempat ini.  Tempat yang dulunya menjadi surga dimasa kecil, berubah menjadi ketakutan dikarenakan konflik yang tak berkesudahan, yang tak pernah diketahui dimana awal dan akhirnya. Perkelahian antar kampung membuat tempat ini selalu menjadi sasaran persembunyian orang-orang yang sudah tak kenal lagi apa artinya “sampesuvu….nosarara…maliuntinuvu”.  Saudara seolah telah menjadi musuh yang harus dibinasakan, tak ada lagi rasa kekerabatan.  Perkelahian itu membuat semuanya berubah.

Saya merindukan bungi lekatu yang dulu menjadi tempat untukku bermain….berlari… bergerak bebas…menari dengan riang….karena semua tubuhku terasa hidup ditempat ini dan hampir setengah perjalananku, menikmati tempat ini.  Disini banyak gerak-gerak yang telah kulihat dari kebiasaan orang-orang sehari-harinya.  Bungi hi ra apunai nu makumpu.

  1. 1.      Konsep Garapan Tari

Bagaimana memori berpengaruh dalam kehidupan manusia? Bukankah sejarah manusia terbentuk dari lempengan ingatan akan masa silam? Itulah yang saat ini sedang hadir dalam pemikiran koreografer, ingin menafsirkan upaya manusia untuk meneguhkan memori sebagai bagian terpenting dalam kehidupannya.

Memori turut mendefinisikan masa lalu, masa kini dan masa depan.  Konsep karya dibagi menjadi tiga mewakili tiga masa.  Tubuh penari seolah tengah menari dengan masa lalunya. Seperti kembali menjadi seorang anak kecil yang asik bermain dengan imajinasinya, menikmati suasana tempat dengan bebas, melompat kegirangan, menari dengan mimik wajah bahagia, seolah tak ada ketakutan dalam dirinya.  Fragmen berikutnya, menggali memori suka dan duka.  Nuansa riang, bercanda dan bermain kemudian menjelma menjadi bentuk kegelisahan dengan berlari-lari seolah menghindar ingin menjauh dari tempat tersebut.

Tubuh penari tampil dalam bahasa gerak yang ritmis dan menjelajah, dengan konsepsi tubuh trembling (gemetar) pada konsepsi gerak dasar balia.  Menjadikan tubuh penari memiliki ego-sentris yang kuat pada memori ruang.

 

  1. 2.      Konsep Garapan Monolog

Dialog dan tubuh menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam menyampaikan pesan cerita.  Musik sebagai pengiring suasana menjadi salah satu spektakel selain dialog untuk menghadirkan teror bagi penonton. Penunjang lain dalam garapan ini adalah setting artistik minimalis dan imajiner.  Hal ini untuk memancing daya hayal penonton untuk masuk kedalam setiap adegan yang dihadirkan oleh sang aktor.

 

  1. 3.      Ide Garapan

Membayangkan akan masa lalu yang indah menjadi sebuah kenangan manis yang tak pernah terlupakan, apalagi dimasa kanak-kanak. Bermain……saling kejar-mengejar, bersembunyi, bergembira adalah sebuah gambaran, dimana hal itu akan terus dikenang bagi setiap manusia. Bungi, disini kami tumbuh.  Bungi, disini kami dekat dengan alam. Tempat dimana aktifitas para warga. Namun disisi lain bayangan-bayangan indah itupun berubah menjadi mimpi-mimpi menakutkan.  Keceriaan itu hilang berganti rasa kecemasan, ketakutan akan adanya bahaya yang datang tiba-tiba.

Bungi tava nu juka atau lebih sering disebut bungi lekatu, tempat kami bersenda gurau itu telah hilang dan berubah… konflik yang tak pernah berakhir memaksa ingatan untuk menghapus kebahagiaan itu. Bungi, kini dijadikan persembunyian  bagi mereka yang tak memiliki rasa kasih sayang.

 

  1. 4.      Konsep Penyatuan Monolog – Tari – Musik

Part I                                            :       Opening (Musik – Medium)

Monolog – Tari (Komposisi I)       on stage ( 5” )

Part II                                           :       Monolog ( 5” )

Musik (Medium)

Part III                                         :       Tari – Komposisi II ( 5” )

Musik (Low)

Part IV                                         :       Monolog ( 5” )

Musik (Medium)

Part V                                           :       Musik (High-UP)

Penggabungan Monolog – Tari (bersamaan)  ( 2” )

Monolog ( Area)

Tari ( Semak menuju tengah panggung bungi)

 

  1. 5.        Profil IPIN CEVIN

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Arifin Baderan atau yang lebih akrab di panggil Ipin Cevin, lahir di sebuah kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah pada tanggal 1 Januari 1988.  Mulai mengenal seni teater pada tahun 2002 yang pada saat itu masih sebagai penikmat seni, namun seiring waktu yang terus berputar, keinginan untuk menjadi seorang pemain teater itupun muncul, yang pada waktu itu hanya sebatas seni untuk seni. Namun lewat proses itulah, kesadaran dalam diri muncul untuk mencari tahu lebih dalam tentang seni khususnya seni teater. Naskah yang pernah dipentaskan diantaranya RAJA RAMZEZ (2006), MAUT karya Etenk Irsyad (2006), HILANGNYA SEBUAH HARAPAN karya etenk irsyad (2008), MONOLOG KASIR KITA karya Arifin C. Noer (2008), MONOLOG HATI YANG MERACAU, YANG TERBATAS karya R.D Lingga, BEN GO TUN karya Saini KM, SUARA HATI karya Etenk Irsyad, HANYA SATU KALI (2010), MATAHARI DIUJUNG JALAN KECIL karya Arifin C. Noer (2011), TOPOGENTE karya Ashar Yotomaruangi (2010), DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI karya Gusmel Riyady (2011), INSPEKTUR JENDRAL karya Nikolai Gogol (2012), MONOLOG CERMIN karya Nano Riantiarno.

Mulai menyutradarai tahun 2008 dalam naskah HILANGNYA SEBUAH HARAPAN, MATAHARI DIUJUNG JALAN KECIL karya Arifin C.Noer (2011), MONOLOG EPISODE DAUN KERING (2010), MONOLOG TANGIS NAPI PEMBUNUH karya Luki Safriana (2012), HANYA SATU KALI, INSPEKTUR JENDRAL karya Nikolai Gogol (2012), YANG TERBATAS karya RD Lingga (2010), DILARANG MENYANYI DIKAMAR MANDI karya Gusmel Riyady (2011), KALIAVO karya Ashar Yotomaruangi (2012) MONOLOG BALADA SUMARAH (2012), AYAHKU PULANG karya Usmar Ismail.

Contact Person

Email : ipin.cevin@gmail.com FB : Ipin Cevin Twitter : @seniLOBO

 

  1. 6.        Profil IIN AINAR LAWIDE

Di Bawah Daun-daun Hijau 2010

Alumni FISIP Untad Jurusan Antropologi dan tercatat sebagai anggota Sanggar Seni Kaktus sejak tahun 2000.  Selama di Sanggar Seni Kaktus pernah menjabat sebagai Koordinator Komite Tari (periode 2001-2002), Ketua Umum Sanggar Seni Kaktus (periode 2002-2003) dan menjadi Sterring Comitte di beberapa event yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Kaktus dan sejak 2006 mulai berkarya dengan nama sendiri iiNainaR danceworker.  Mulai menari sejak masih duduk di bangku SD.  Sejak tahun 1993 mulai serius menekuni dunia tari khususnya tari tradisi, sejak tahun tersebut menjadi penari dari beberapa karya-karya tari tradisi garapan AM. Kupalele seperti Moloso Maradika, Sarondayo, Moragi dan Moraro.  Menjadi penari dari karya tari Nopaluanga karya Zuleha Basrun pada Palu Dance Festival 1999 dan menjadi penari pada karya koreografer Sandy Mangiri “Perempuanku” dalam event Temu Koreografer Wanita 3 di Solo, 2002.

Mulai menggarap dan mencipta tari sejak tahun 2001 diantaranya : “PROVOKATOR” Karya Kolaborasi pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 1, 2001.  “VAU” Karya Kolaborasi Puisi pada Artefak Donggala, 2002.  “SALONDE” pada Solo Dance Festival di Teater Besar ISI Surakarta, 2003.  “JALAN SETAPAK” pada Festival Penata Tari Muda II di Teater Arena Surakarta, 2003.  “TRANSBODY” Karya Kolaborasi hasil workshop pada Solo Dance Festival, 2003.  “DOWN” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 3 di Taman Budaya Palu, 2003.  “SESAAT” pada Gelar Aksi Serba Seni Balia di Taman Budaya Palu, 2004.  “TAMBILUGI” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 4 di Taman Budaya Palu, 2004.  “LAPAR!” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 5 di Taman Budaya Palu, 2005.  “DUET” pada Indonesian Young Choreographer II : The Next Traces di Jakarta, 2005.  “PETAKA” hasil workshop bersama Bambang Mbesur di Teater Kecil ISI Surakarta, 2006.  “FRENEMIES” pada Program TBS Tidak Sekedar Tari, 2006.  “PEREMPUAN DALAM ?” Karya Kolaborasi bersama Hartati NFN di Solo dan Salihara, 2003.  “APOLOGIZE” karya kolaborasi bersama mahasiswa TRP-ISI Surakarta di TBS, 2007.  “SUNYI” pada Surabaya Next Dancer di Taman Budaya Surabaya, 2007.  “CHASING THE LIGHT” Pada Temu Koreografer Wanita 6, ISI Surakarta, 2008.  “RANDA” kolaborasi HARMONI bersama MAGENTA ORCHESTRA, Teater Jakarta, 2008 & Pekan Koreografi Indonesia, Gerassmus Hauss, 2009.  “SUBI” Natinal Museum of Singapura, 2009.  “ELEGI” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di Open Stage Taman Ria Palu, 2009.  “KRISIS BIROKRASI” kolaborasi pada Pertunjukan Intropeksi Kosong Kosong di Graha, 2010.  “BUMIKU” pada Reuni Akbar FISIP Untad di Kampus Fisip Untad, 2010.  “DIBAWAH DAUN-DAUN HIJAU” pada Festival Teluk Palu, 2010.  “BULAN MATI” pada Celebes Art Painting di Pantai Talise, Palu, 2010.  “YAKU MOMBINE” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di Taman Budaya Sulteng, 2011.  “LET’S WOMAN SPEAK UP” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di TB Sulteng, 2011.  “NOSIVE” pada World Dance Day di ISI Surakarta, 2011.  “SUBI” pada Festival Kesenian Yogyakarta, Museum Vredeburg Yogya, 2011. “SUBI” pada Festival Srawung Candi, Semarang, 2012.  “RANDA – SUBI – BULAN MATI” Solo Performance World Dance Day, ISI Surakarta, 2012.  “TAMBILUGI” Asia Contemporary dance Festival-KOBE Residency Program Series, Kobe-Jepang, 2012, “TAU NISASA” pada Porseni Untad & PIPAF 2012.  Dan telah menari untuk beberapa karya koreografer terbaik Indonesia dan Internasional. diantaranya : Cahyaningtyas-Blora (Bahasa Cinta Surat-Surat Kartini, 2006), Mbah Prapto-Solo (Srawung Sukuh, 2007), Fitri Setyaningsih-Yogya (Green Sahara, 2008), Nungky Nurcahyani-Solo (Wajah Rembulan, 2008 & Bramara, 2009), Ely D. Luthan-Jakarta (Tjoet Njak Dien, 2009), Gerard Mosterd-Jerman (Jam Karet “Waste Time”, 2010), Eno Sulstyorini-Solo (Klise, 2011).

 

Contact Person

Email : iinainarlawide@gmail.com FP : iinAinardanceworker Twitter : @iinainar

 

 

 

Mabunto Performing Art, By Emhan Saja

“MABUNTO”

Interpretator Emhan Saja

603326_4220123232550_1091646458_n 

Harapan ialah kehidupan baru menunggu

Di jejak sungai yang ditinggalkan

Sebuah peradaban akan berkembang

 

 

Adalah ungkapan sakral bagi suku Kaili untuk menyebutkan suatu hal

bertentangan dengan tatanan kehidupan di daerah ini.

Contohnya dengan tidak sembarang menyebut nama leluhur

yang dihormati, atau nama penghuni suatu tempat.

Mengapa demikian…???

Hal ini tentunya mengandung makna yang sangat dalam dan menyimpan nilai-nilai kearifan, namun dalam konteks penggarapan sebuah karya tentunya kata “Mabunto” akan bermakna lain dengan meninggalkan atau tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan tersebut. Barangkat dari kata sakral “Mabunto” maka muncullah gagasan bagaimana respon tubuh seorang aktor dalam menerjemahkan kata tersebut. Ketika kemurnian air mengalir secara alamiah dari ke tinggian menuju dataran yang lebih rendah dan kemudian bersetubuh dengan gelombang lautan, disana terdapat ribuan bahkan berjuta benturan yang menimbulkan bunyi yang maha dahsyat, dan secara alamiah pula aliran sungai yang meninggalkan jejaknya perlahan terlelahkan lalu kemudian mengering, jejak sungai yang mengering tersebut secara pasti akan memberikan harapan baru bagi manusia….

Apakah harapan itu….??

 

Sungai-sungai mengalir kelaut….

Laut-laut menerima segala yang tumpah dari sungai-sungai……

Ada nyanyi sunyi……

Ketika sungai-sungai meninggalkan rumahnya……..

Ada nyanyi riang dan suka cita…..

Ketika manusia menempati rumah sungai-sungai…….

Ada nyanyi duka dan jerit kematian……..

Ketika sungai-sungai kembali ke rumahnya…..

Di mana rumah kita….???

Di tempat berpijak sungaikah…???

Jangan menyimpan serapah dibening air……

Karena……..

Akan merubah unsurnya menjadi petaka…..

Kembalilah ke rahim ibumu….

Dan belajarlah untuk mengeja tiap suku katanya….

Kelak engkau akan memahami bahasa alam…..

 

Hanya sebagai penanda.

Emhan’saja hanyalah seorang pekerja seni biasa yang mencoba beberapa ekperimen untuk dijadikan bahan seni pertunjukan, gagasan-gagasan yang dikemas menjadi karya selama ini tidak ada tanpa belajar dari kawan-kawan seniman lainnya.

karena prinsip yang melekat “ tak ada sesuatu terjadi dengan sendirinya serta tubuh adalah media pembawa berita, masih bergunakah kata-kata bila mata dan telinga telah tertutup “

Itu saja…..

Wellcome to Festival Bunyi Bungi

_MG_1177

Menggaggas peristiwa kesenian dengan jaringan silaturahmi seluas luasnya dengan harapan kami bisa “memetik” sesuatu yang berguna sebagai bekal individu individu di tanah kami.

Festival Bunyi Bungi kami bangun diatas rasa ikhlas. Rasa ingin Tahu dan segala rasa yang membangkitkan semangat untuk segera bangkit dan meninggalkan kegelapan.

Bagi Kami, festival ini lebih dari sekedar perayaan, Festival ini adalah pencerahan !!!!

lihat FBB di

http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1361018430/festival-rano-bungi-bunyi

http://beritapalu.com/category/2-seni-budaya.html

http://beritapalu.com/category/2-seni-budaya.html

http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1361018422/festival-rano-bungi-bunyi

Festival Bunyi Bungi 2013

_MG_0437

Bungi menurut masyarakat kaili adalah sebuah daratan yang terbentuk karena  surutnya air sungai lalu kemudian lahan tersebut difungsikan sebagai area perkebunan tradisional, tambang pasir pemukiman, dll oleh masyarakat tersebut.  Pelaksanaan “Festival Bunyi Bungi 2013” merupakan gagasan dari beberapa anak muda di Sigi, tepatnya di desa kabobona  kecamatan dolo selatan, keberadaan bungi yang dekat dengan pola hidup masyarakat local yang kemudian menghilhami beberapa pemuda di sanggar Rano Bungi untuk  menggagas FBB sebagai titik awal penciptaan karya-karya yang kemudian dipresesentasikan pada satu venue di Rano Bungi, yang kemudian di sebut Festival Bunyi Bungi.

Pemuda dari beberapa sanggar seni khususnya dari wilayah sibalaya hingga kalukubula  bertemu, menyatukan gagasan-gagasan untuk mengemas Festival Bunyi Bungi yang digelar 16-17 febuari 2013.  Tepat pada pukul 15.45 menit  Opening ceremony FBB dibuka dengan kolaborasi dari masyarakat adat sibowi dan Siswa siswi SD kota rindau dengan menampilkan tari raego, selanjutnya secara resmi dibuka oleh Bupati Sigi, Sulawesi Tengah, Aswadin Randalembah, dalam sambutannya bupati sigi mengatakan Festival Bunyi Bungi menjadi bagian yang sangat penting demi mewujudkan visi misi Kabupaten Sigi yang sangat menjunjung kebudayaan dan kearifan local sehingga terwujudnya sigi yang berbudaya dan beradab, Bupati Sigi manambahkan selain itu Festival Bunyi Bungi Bisa menjadi Ruang para Seniman untuk mempresentasikan karya-karya seninya.

Tepat pukul 18.30 pertunjukan seni berlangsung selama dua hari, ada sekitar 22 penyaji terdiri dari sanggar seni masyarakat dan pemuda sigi, Kota Palu, buol, toil-toli, Makassar, Bali, chilli dan Australia. Festival Bunyi Bungi yang mengambil konsep alam terbuka menarik perhatian masyarakat sekitar, hal ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, seperti diketahui festival seni budaya seperti FBB baru pertama kali diselenggarakan di desa mereka.

Ketika ditanyai ke salah satu panitia, awalnya mereka ingin menyelenggarakan pengukuhan perekrutan sanggar seni didesa kabobona, ketika hal ini diteruskan pada izat yakni seorang pemuda yang juga di dikenal  sebagai pelaku seni, akhirnya pengukuhan ini berubah konsep menjadi Festival Bunyi Bungi apalagi melihat rano bungi yang memungkinkan untuk menjadi ruang FBB berlangsung.

Festival bunyi bungi menjadi perhatian besar masyarakat ketika ada dua seniman luar negeri juga mempresentasikan karyanya. Patricio seniman tradisi yang berasal dari chilli memainkan goda alat music petik khas chilli, sedangkan Ron Reeves asal Australia memainkan tarogato dan furulya yang ditampilkan secara inovatif menggunakan alat perekam modern sehingga meskipun sendiri ia bisa memainkan semua alat music hingga menjadi satu instrument utuh untuk didengar penonton, semua penonton memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap Ron.

Seperti tagline FBB, Malam itu hati dan tubuh pemuda menyatu, mengganti dumdum dan busur menjadi bunyi, semoga ini akan terus menjadi ritual tahunan para pemuda, seniman, masyarakat, dan pemerintah kabupaten sigi. (@lapintaintu)

sumber : http://www.stepmagz.com/2013/02/festival-bunyi-bungi/