Lawan catur Ensamble

Di maksudkan untuk menghadirkan sebuah kelompok yang secara khusus menangani persoalan ilustrasi musikal untuk teater. Inilah gagasan awal sampai lahirnya kelompok ini. Saat sebelum terbentuknya pun setiap individu di kelompok ini memang telah beberapa kali terlibat dalam proses penggarapan musik untuk keperluan dalam teater. Kelompok ini tidak hanya berdiri pada satu bidang ekspresi  jika kita melihat dari nama yang lebih mengacu kepada istilah dalam musik itu sendiri. Dalam perjalanannya yang setiap waktu sering berkutat pada ilustrasi musik dalam pementasan teater, secara tidak langsung garapan karya musik secara khusus lebih mengacu kepada posisi saat bagaimana adegan per adegan diperkuat oleh kehadiran bunyi-bunyian dalam teater itu sendiri dengan tidak melupakan pijakan – pijakan dasar dari penciptaan sumber bunyi saat kita menafsir kembali konsep tradisi di dalamnya.

60411_1348856896208_4319542_nPIJAKAN KARYA

Masuknya Islam serta proses Islamisasi tidak mempunyai pola yang seragam di berbagai kepulauan di Indonesia. Untuk itu, terjadi perbedaan yang mencolok mengenai pemahaman dari berbagai sudut mengenai masuknya Islam di suatu daerah bahkan sampai pada proses Islamisasinya. Berbicara mengenai masuk dan berkembangnya Islam di berbagai daerah, ada beberapa hal yang harus dijabarkan didalamnya, yakni proses masuk, pembawa ajaran, penerimaan masyarakat yang meskipun mempunyai tantangan dalam pengajarannya karena kepercayaan lama berupa sistem kepercayaan tradisionalistik menjadi penghalang utama, bahkan sampai pada perubahan yang dihasilkan Islam itu sendiri.  Secara umum, proses masuknya Islam di Sulawesi Tengah menggunakan jalur laut, setelah itu melalui darat. Hal mendasar yang menjadi alasan adalah karena ribuan pulau yang ada di Indonesia sejak lama telah menjalin hubungan antar pulau melalui jalur pelayaran, baik dengan motivasi ekonomi maupun kepentingan kekuasaan. Dengan adanya hubungan ini pula yang mengantar ajaran (dakwah) Islam menembus pulau Sulawesi, tidak terkecuali Sulawesi Tengah. Pada bagian lain juga, masyarakat Sulawesi Tengah menerima ajaran ini tanpa paksaan, dan paling menarik adalah perubahan yang dihasilkan oleh Islam itu sendiri. Perkembangan agama Islam di daerah Sulawesi Tengah secara kronologis yang pertama memeluk ajaran Islam adalah raja dan keluarganya (bangsawan-bangsawan) yang biasa disebut Madika. setelah itu barulah tersebar ke masyarakat umum.Ini berarti bahwa tonggak-tonggak awal islamisasi di Sulawesi tengah telah tertanam dengan kokoh dan kemudian sebagian besar kerajaan di Sulawesi Tengah telah menganut ajaran Islam. Ajaran agama Islam yang datang ke Sulawesi Tengah mengalami masa perkembangan yang bertahap. mula-mula dianut oleh masyarakat yang berdiam di pesisir, kemudian makin meluas ke arah pedalaman.

Wilayah Sulawesi Tengah, pemeluk pertama ajaran Islam adalah kerajaan Buol dan Banggai yang diperkirakan masuk sekitar pertengahan abad ke-16 yang dimana kedua kerajaan ini mendapatkan pengaruh dari kesultanan kerajaan Ternate yang telah menerima agama Islam pada abad ke-15. Sedangkan ajaran tersebut masuk di Tanah Kaili pada permulaan abad ke-17 (tahun 1603) yang di bawa oleh dua orang mubaligh berasal dari minangkabau. Daerah Palu dibawa oleh Abdul Raqie dengan gelar Datuk Karama dan untuk wilayah pantai timur Kabupaten Donggala dibawa oleh Datuk Mangaji. Abdul Raqie datang dengan rombongan dari minangkabau yang kurang lebih berjumlah 50 orang di muara Teluk Palu (Karampe) menggunakan sebuah peraho kora – kora. Rombongan tersebut dipimpin oleh Abdullah Raqie yang kemudian dikenal dengan gelar Dato Karama. Beliau membawa serta istri, ipar, dan anaknya. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya seperti Bendera Kuning, Panji Orang-Orangan, Puade, Jijiri, Bulo, Gong, dan Kakula (Kulintang). Kedatangan Dato Karama di Lembah Palu disambut dengan baik oleh masyarakat Lembah Palu bahkan kedatangannya disambut oleh dua bangsawan Lembah Palu saat Itu yaitu Parasila atau Pue Njidi dan I Moili atau Pue Bongo. Parasila atau Pue Njidi merupakan raja Kabonena. Pue Njidi dan Pue Bongo kemudian memeluk Islam diikuti oleh masyarakat Lembah Palu pada proses yang dilakukan oleh Dato Karama berpusat pada sebuah mesjid yang didirikan atas dukungan masyarakat (penduduk) di sekitar masjid tersebut. Masjid ini diberi nama masjid Jami dan berada di wilayah kelurahan Kampung Baru sekarang. Kemudian dilanjutkan dengan penyiaran Agama Islam yang berasl dari Arab, bernama Sayed Idrus Bin Salim Al-Djufrie atau yang populer di panggil Guru Tua pada kurang lebih abad ke-20 membawa pengaruh organisasi Syarikat Islam (SI) disusul dengan berdirinya Perguruan Islam Alkahiraat sejak tahun 1930 yang menyebabkan  penyebaran Agama Islam berkembang dengan pesat hingga ke pelosok-pelosok desa di Sulawesi Tengah. Disamping itu, selisih tahun antara kedatangan Datokarama dan Guru Tua yang terpaut lebih dari tiga abad, Islam dikembangkan oleh para mubaligh maupun pedagang yang berasal dari Mandar, Bugis, dan Makassar. Kedatangan para mubaligh dan pedagang dari Mandar, Bugis dan Makassar ini telah kita lihat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat islam Sulawesi Tengah seperti, model mengaji huruf ugi, barasanji, dan yang utama adalah eksistensi kebudayaan “selatan” yang mengalami akulturasi dengan budaya Sulawesi Tengah.

PENGHADIRAN BUNYI

Kami menyimpulkan bahwa Kedatangan Islam ini membawa pembaharuan “peradaban” di Kota Palu. Ini yang coba di transfer menjadi satu bentuk pertunjukan musik yang dimana penghadiran bunyi di karya ini dalam penggambarannya secara musikal lebih menuju kepada perubahan sebelum dan masuknya ajaran Islam itu sendiri sampai kepada bagaimana pengimplementasiannya di kehidupan sekarang dengan tidak terlepasnya pendekatan bunyi – bunyian serta vokal – vokal dari beberapa tradisi dan kebudayaan masyarakat Kaili yang mempunyai kaitan dengan penggambaran dari suasana yang coba dihadirkan dari beberapa bagian dalam pertunjukannya.  Secara bentuk fisik, ada beberapa instrument pendukung yang coba dihadirkan yang terlepas dari alat – alat tradisi di daerah ini. Ini bukan menjadi masalah, kenapa tidak jika instrument itu digunakan untuk memperjelas suasana yang coba dihadirkan dalam garapan ini, dan itu sah – sah saja selama dalam penyampaian bunyi itu sendiri pada akhirnya di terima oleh pendengar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s