Mabunto Performing Art, By Emhan Saja

“MABUNTO”

Interpretator Emhan Saja

603326_4220123232550_1091646458_n 

Harapan ialah kehidupan baru menunggu

Di jejak sungai yang ditinggalkan

Sebuah peradaban akan berkembang

 

 

Adalah ungkapan sakral bagi suku Kaili untuk menyebutkan suatu hal

bertentangan dengan tatanan kehidupan di daerah ini.

Contohnya dengan tidak sembarang menyebut nama leluhur

yang dihormati, atau nama penghuni suatu tempat.

Mengapa demikian…???

Hal ini tentunya mengandung makna yang sangat dalam dan menyimpan nilai-nilai kearifan, namun dalam konteks penggarapan sebuah karya tentunya kata “Mabunto” akan bermakna lain dengan meninggalkan atau tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan tersebut. Barangkat dari kata sakral “Mabunto” maka muncullah gagasan bagaimana respon tubuh seorang aktor dalam menerjemahkan kata tersebut. Ketika kemurnian air mengalir secara alamiah dari ke tinggian menuju dataran yang lebih rendah dan kemudian bersetubuh dengan gelombang lautan, disana terdapat ribuan bahkan berjuta benturan yang menimbulkan bunyi yang maha dahsyat, dan secara alamiah pula aliran sungai yang meninggalkan jejaknya perlahan terlelahkan lalu kemudian mengering, jejak sungai yang mengering tersebut secara pasti akan memberikan harapan baru bagi manusia….

Apakah harapan itu….??

 

Sungai-sungai mengalir kelaut….

Laut-laut menerima segala yang tumpah dari sungai-sungai……

Ada nyanyi sunyi……

Ketika sungai-sungai meninggalkan rumahnya……..

Ada nyanyi riang dan suka cita…..

Ketika manusia menempati rumah sungai-sungai…….

Ada nyanyi duka dan jerit kematian……..

Ketika sungai-sungai kembali ke rumahnya…..

Di mana rumah kita….???

Di tempat berpijak sungaikah…???

Jangan menyimpan serapah dibening air……

Karena……..

Akan merubah unsurnya menjadi petaka…..

Kembalilah ke rahim ibumu….

Dan belajarlah untuk mengeja tiap suku katanya….

Kelak engkau akan memahami bahasa alam…..

 

Hanya sebagai penanda.

Emhan’saja hanyalah seorang pekerja seni biasa yang mencoba beberapa ekperimen untuk dijadikan bahan seni pertunjukan, gagasan-gagasan yang dikemas menjadi karya selama ini tidak ada tanpa belajar dari kawan-kawan seniman lainnya.

karena prinsip yang melekat “ tak ada sesuatu terjadi dengan sendirinya serta tubuh adalah media pembawa berita, masih bergunakah kata-kata bila mata dan telinga telah tertutup “

Itu saja…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s