“MEMOAR LEKATU” (iin ainar & ipin kevin)

Pertunjukan Kolaborasi Tari – Monolog “MEMOAR LEKATU” (iin ainar & ipin kevin)

Memori sebuah kata yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali (ingatan).  Memori bisa membuat seseorang kembali teringat akan masa lalunya, entah itu kemudian membuatnya bahagia atau bahkan terpuruk dalam kesedihan.

Ketika sebuah rasa ketakutan atas memori atau ingatan selalu hadir dalam diri anda, yang terjadi adalah traumatik akan satu peristiwa sehingga membuat anda tidak ingin mengingat sesuatu itu ataupun mendatangi kembali tempat tersebut.

Memori di masa kecil ternyata tidak mampu memberikan sebuah keberanian yang besar untuk kembali ke sebuah tempat dimana dahulu merasa bahagia, tertawa tanpa beban, bermain bersama teman-teman, berlarian dengan bebas, menikmati dinginnya hawa dan bermain air sepuasnya.

Dahulu tempat ini begitu menyenangkan dan menenangkan, walaupun dipenuhi pepohonan, serta ilalang juga tanaman-tanaman liar namun tetap terkesan tidak menyeramkan untuk siapa saja yang mendatanginya.  Tempat ini menjadi berkumpulnya warga di kampung ini, berada ri bivi nu ngata, tempat ini selalu ramai dengan warga yang melakukan aktivitas keseharian mereka disini, mandi, berkebun, memandikan kuda dan sapi, memberi makan kambing, tempat dimana para ibu-ibu ataupun gadis-gadis mencuci, dan tentunya tempat kami menghabiskan sisa hari bermain-main sepuasnya.  Sebuah tempat menyenangkan di masa kecil itu bernama bungi tava nu juka atau lebih sering disebut bungi lekatu.  Sebuah surga bermain bagi kami dulunya dei nu ngata.

Bungi kini menjadi tempat yang dipenuhi rasa ketakutan dan setiap berada disini ketenangan yang dulu ada berganti dengan kecemasan. Berjalan diantara kegelisahan, menyusuri tempat yang dulunya tenang.  Suara-suara air seolah kini terdengar seperti suara panah yang akan dilesatkan dari busurnya.  Keceriaan dan keriangan diantara rerumputan serta tanaman liar berubah menjadi rasa was-was seolah-olah yang terdengar suara kaki orang-orang berlarian mengejar musuh atau untuk menyelamatkan diri.  Traumatik pada telinga ini akan dentuman dum-dum yang setiap saat berbunyi, membuatku tak ingin lagi ke tempat ini.  Tempat yang dulunya menjadi surga dimasa kecil, berubah menjadi ketakutan dikarenakan konflik yang tak berkesudahan, yang tak pernah diketahui dimana awal dan akhirnya. Perkelahian antar kampung membuat tempat ini selalu menjadi sasaran persembunyian orang-orang yang sudah tak kenal lagi apa artinya “sampesuvu….nosarara…maliuntinuvu”.  Saudara seolah telah menjadi musuh yang harus dibinasakan, tak ada lagi rasa kekerabatan.  Perkelahian itu membuat semuanya berubah.

Saya merindukan bungi lekatu yang dulu menjadi tempat untukku bermain….berlari… bergerak bebas…menari dengan riang….karena semua tubuhku terasa hidup ditempat ini dan hampir setengah perjalananku, menikmati tempat ini.  Disini banyak gerak-gerak yang telah kulihat dari kebiasaan orang-orang sehari-harinya.  Bungi hi ra apunai nu makumpu.

  1. 1.      Konsep Garapan Tari

Bagaimana memori berpengaruh dalam kehidupan manusia? Bukankah sejarah manusia terbentuk dari lempengan ingatan akan masa silam? Itulah yang saat ini sedang hadir dalam pemikiran koreografer, ingin menafsirkan upaya manusia untuk meneguhkan memori sebagai bagian terpenting dalam kehidupannya.

Memori turut mendefinisikan masa lalu, masa kini dan masa depan.  Konsep karya dibagi menjadi tiga mewakili tiga masa.  Tubuh penari seolah tengah menari dengan masa lalunya. Seperti kembali menjadi seorang anak kecil yang asik bermain dengan imajinasinya, menikmati suasana tempat dengan bebas, melompat kegirangan, menari dengan mimik wajah bahagia, seolah tak ada ketakutan dalam dirinya.  Fragmen berikutnya, menggali memori suka dan duka.  Nuansa riang, bercanda dan bermain kemudian menjelma menjadi bentuk kegelisahan dengan berlari-lari seolah menghindar ingin menjauh dari tempat tersebut.

Tubuh penari tampil dalam bahasa gerak yang ritmis dan menjelajah, dengan konsepsi tubuh trembling (gemetar) pada konsepsi gerak dasar balia.  Menjadikan tubuh penari memiliki ego-sentris yang kuat pada memori ruang.

 

  1. 2.      Konsep Garapan Monolog

Dialog dan tubuh menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam menyampaikan pesan cerita.  Musik sebagai pengiring suasana menjadi salah satu spektakel selain dialog untuk menghadirkan teror bagi penonton. Penunjang lain dalam garapan ini adalah setting artistik minimalis dan imajiner.  Hal ini untuk memancing daya hayal penonton untuk masuk kedalam setiap adegan yang dihadirkan oleh sang aktor.

 

  1. 3.      Ide Garapan

Membayangkan akan masa lalu yang indah menjadi sebuah kenangan manis yang tak pernah terlupakan, apalagi dimasa kanak-kanak. Bermain……saling kejar-mengejar, bersembunyi, bergembira adalah sebuah gambaran, dimana hal itu akan terus dikenang bagi setiap manusia. Bungi, disini kami tumbuh.  Bungi, disini kami dekat dengan alam. Tempat dimana aktifitas para warga. Namun disisi lain bayangan-bayangan indah itupun berubah menjadi mimpi-mimpi menakutkan.  Keceriaan itu hilang berganti rasa kecemasan, ketakutan akan adanya bahaya yang datang tiba-tiba.

Bungi tava nu juka atau lebih sering disebut bungi lekatu, tempat kami bersenda gurau itu telah hilang dan berubah… konflik yang tak pernah berakhir memaksa ingatan untuk menghapus kebahagiaan itu. Bungi, kini dijadikan persembunyian  bagi mereka yang tak memiliki rasa kasih sayang.

 

  1. 4.      Konsep Penyatuan Monolog – Tari – Musik

Part I                                            :       Opening (Musik – Medium)

Monolog – Tari (Komposisi I)       on stage ( 5” )

Part II                                           :       Monolog ( 5” )

Musik (Medium)

Part III                                         :       Tari – Komposisi II ( 5” )

Musik (Low)

Part IV                                         :       Monolog ( 5” )

Musik (Medium)

Part V                                           :       Musik (High-UP)

Penggabungan Monolog – Tari (bersamaan)  ( 2” )

Monolog ( Area)

Tari ( Semak menuju tengah panggung bungi)

 

  1. 5.        Profil IPIN CEVIN

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Arifin Baderan atau yang lebih akrab di panggil Ipin Cevin, lahir di sebuah kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah pada tanggal 1 Januari 1988.  Mulai mengenal seni teater pada tahun 2002 yang pada saat itu masih sebagai penikmat seni, namun seiring waktu yang terus berputar, keinginan untuk menjadi seorang pemain teater itupun muncul, yang pada waktu itu hanya sebatas seni untuk seni. Namun lewat proses itulah, kesadaran dalam diri muncul untuk mencari tahu lebih dalam tentang seni khususnya seni teater. Naskah yang pernah dipentaskan diantaranya RAJA RAMZEZ (2006), MAUT karya Etenk Irsyad (2006), HILANGNYA SEBUAH HARAPAN karya etenk irsyad (2008), MONOLOG KASIR KITA karya Arifin C. Noer (2008), MONOLOG HATI YANG MERACAU, YANG TERBATAS karya R.D Lingga, BEN GO TUN karya Saini KM, SUARA HATI karya Etenk Irsyad, HANYA SATU KALI (2010), MATAHARI DIUJUNG JALAN KECIL karya Arifin C. Noer (2011), TOPOGENTE karya Ashar Yotomaruangi (2010), DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI karya Gusmel Riyady (2011), INSPEKTUR JENDRAL karya Nikolai Gogol (2012), MONOLOG CERMIN karya Nano Riantiarno.

Mulai menyutradarai tahun 2008 dalam naskah HILANGNYA SEBUAH HARAPAN, MATAHARI DIUJUNG JALAN KECIL karya Arifin C.Noer (2011), MONOLOG EPISODE DAUN KERING (2010), MONOLOG TANGIS NAPI PEMBUNUH karya Luki Safriana (2012), HANYA SATU KALI, INSPEKTUR JENDRAL karya Nikolai Gogol (2012), YANG TERBATAS karya RD Lingga (2010), DILARANG MENYANYI DIKAMAR MANDI karya Gusmel Riyady (2011), KALIAVO karya Ashar Yotomaruangi (2012) MONOLOG BALADA SUMARAH (2012), AYAHKU PULANG karya Usmar Ismail.

Contact Person

Email : ipin.cevin@gmail.com FB : Ipin Cevin Twitter : @seniLOBO

 

  1. 6.        Profil IIN AINAR LAWIDE

Di Bawah Daun-daun Hijau 2010

Alumni FISIP Untad Jurusan Antropologi dan tercatat sebagai anggota Sanggar Seni Kaktus sejak tahun 2000.  Selama di Sanggar Seni Kaktus pernah menjabat sebagai Koordinator Komite Tari (periode 2001-2002), Ketua Umum Sanggar Seni Kaktus (periode 2002-2003) dan menjadi Sterring Comitte di beberapa event yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Kaktus dan sejak 2006 mulai berkarya dengan nama sendiri iiNainaR danceworker.  Mulai menari sejak masih duduk di bangku SD.  Sejak tahun 1993 mulai serius menekuni dunia tari khususnya tari tradisi, sejak tahun tersebut menjadi penari dari beberapa karya-karya tari tradisi garapan AM. Kupalele seperti Moloso Maradika, Sarondayo, Moragi dan Moraro.  Menjadi penari dari karya tari Nopaluanga karya Zuleha Basrun pada Palu Dance Festival 1999 dan menjadi penari pada karya koreografer Sandy Mangiri “Perempuanku” dalam event Temu Koreografer Wanita 3 di Solo, 2002.

Mulai menggarap dan mencipta tari sejak tahun 2001 diantaranya : “PROVOKATOR” Karya Kolaborasi pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 1, 2001.  “VAU” Karya Kolaborasi Puisi pada Artefak Donggala, 2002.  “SALONDE” pada Solo Dance Festival di Teater Besar ISI Surakarta, 2003.  “JALAN SETAPAK” pada Festival Penata Tari Muda II di Teater Arena Surakarta, 2003.  “TRANSBODY” Karya Kolaborasi hasil workshop pada Solo Dance Festival, 2003.  “DOWN” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 3 di Taman Budaya Palu, 2003.  “SESAAT” pada Gelar Aksi Serba Seni Balia di Taman Budaya Palu, 2004.  “TAMBILUGI” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 4 di Taman Budaya Palu, 2004.  “LAPAR!” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus 5 di Taman Budaya Palu, 2005.  “DUET” pada Indonesian Young Choreographer II : The Next Traces di Jakarta, 2005.  “PETAKA” hasil workshop bersama Bambang Mbesur di Teater Kecil ISI Surakarta, 2006.  “FRENEMIES” pada Program TBS Tidak Sekedar Tari, 2006.  “PEREMPUAN DALAM ?” Karya Kolaborasi bersama Hartati NFN di Solo dan Salihara, 2003.  “APOLOGIZE” karya kolaborasi bersama mahasiswa TRP-ISI Surakarta di TBS, 2007.  “SUNYI” pada Surabaya Next Dancer di Taman Budaya Surabaya, 2007.  “CHASING THE LIGHT” Pada Temu Koreografer Wanita 6, ISI Surakarta, 2008.  “RANDA” kolaborasi HARMONI bersama MAGENTA ORCHESTRA, Teater Jakarta, 2008 & Pekan Koreografi Indonesia, Gerassmus Hauss, 2009.  “SUBI” Natinal Museum of Singapura, 2009.  “ELEGI” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di Open Stage Taman Ria Palu, 2009.  “KRISIS BIROKRASI” kolaborasi pada Pertunjukan Intropeksi Kosong Kosong di Graha, 2010.  “BUMIKU” pada Reuni Akbar FISIP Untad di Kampus Fisip Untad, 2010.  “DIBAWAH DAUN-DAUN HIJAU” pada Festival Teluk Palu, 2010.  “BULAN MATI” pada Celebes Art Painting di Pantai Talise, Palu, 2010.  “YAKU MOMBINE” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di Taman Budaya Sulteng, 2011.  “LET’S WOMAN SPEAK UP” pada Expo Seni Pertunjukan Kaktus di TB Sulteng, 2011.  “NOSIVE” pada World Dance Day di ISI Surakarta, 2011.  “SUBI” pada Festival Kesenian Yogyakarta, Museum Vredeburg Yogya, 2011. “SUBI” pada Festival Srawung Candi, Semarang, 2012.  “RANDA – SUBI – BULAN MATI” Solo Performance World Dance Day, ISI Surakarta, 2012.  “TAMBILUGI” Asia Contemporary dance Festival-KOBE Residency Program Series, Kobe-Jepang, 2012, “TAU NISASA” pada Porseni Untad & PIPAF 2012.  Dan telah menari untuk beberapa karya koreografer terbaik Indonesia dan Internasional. diantaranya : Cahyaningtyas-Blora (Bahasa Cinta Surat-Surat Kartini, 2006), Mbah Prapto-Solo (Srawung Sukuh, 2007), Fitri Setyaningsih-Yogya (Green Sahara, 2008), Nungky Nurcahyani-Solo (Wajah Rembulan, 2008 & Bramara, 2009), Ely D. Luthan-Jakarta (Tjoet Njak Dien, 2009), Gerard Mosterd-Jerman (Jam Karet “Waste Time”, 2010), Eno Sulstyorini-Solo (Klise, 2011).

 

Contact Person

Email : iinainarlawide@gmail.com FP : iinAinardanceworker Twitter : @iinainar

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s