Tonda Talusi Performing Art, M.Nurdianzah,S.Sn

Konsep performance art “Tondatalusi”

Interpretasi M. Noerdianza

Idealisme komunal kehilangan makna

Sistem telah melangkah jauh dari bukti-bukti empiris.

Hanyutkan segala perasaan resah

Tanamkan harapan bahwa kita sebenarnya satu.

 

Sekilas tentang Perforamance art

Di Indonesia performance art muncul tahun 1975 seiring dengan adanya Gerakan seni rupa Baru. Pada awal kemunculannya sampai tahun 2000, performance art masih ”murni” menjadi seni garda depan. Kritis terhadap dunia seni rupa Indonesia dan muncul di jalan-jalan bersama mahasiswa dan masyarakat berdemonstrasi memperjuangkan nilai keadilan. Ketika muncul warna baru dalam seni rupa (media art dan new media art) yang lahir dari persinggungan seni dan teknologi, performance art mengalami perkembangan. Dalam perkembangan dunia seni rupa kontemporer Indonesia dewasa ini, khususnya karya-karya yang bersinggungan dengan perkembangan teknologi, New Media Art (seni media baru) adalah salah satu contohnya. Dalam konteks seni, penggunaannya sering dipahami sebagai tawaran kemungkinan baru dalam menciptakan atau mengalami kesenian. Salah satunya adalah adanya perubahan bentuk performance art menjadi multimedia performance dan yang terakhir berubah bentuk menjadi video performance. Video performance, lahir dari sejarah panjang perkembangan performance art. Selain persoalan perpaduan seni dan teknologi yang mendorong metamorfosisi (perubahan bentuk) performance art menjadi video performance seperti di atas.Tulisan ini juga membahas aspek-aspek sosial seiring kemunculan dan perkembangan performance art di Indonesia. Pertama performance art sebagai seni penyadaran dan perlawanan dengan cara mengembangkan kembali realitas sosial dan kemapanan seni rupa itu sendiri. Kedua adanya wadah dalam praktik pemberitaan kilat secara luas (termasuk Indonesia) yang membelokkan arah perjuangan. Ada juga jenis performance art dari wadah penyadaran menjadi seni periklanan untuk kepentingan pasar.

 

“Tondatalusi” dalam pengertian ilmiah

Adalah tiga tungku penyangga dan penyeimbang apabila salah satu di antaranya tidak ada, maka wadah yang berada di atasnya tidak akan berdiri tegak alias miring bahkan jatuh dan hancur. Tungku  sebagaimana kita ketahui adalah tempat atau wadah yang dipakai untuk memasak makanan sampai benar-benar matang dan siap saji. Tungku yang berbentuk segi tiga tentunya menghadirkan tiga lubang pula atau celah, tempat di mana kayu tersebut akan dibakar, mengeluarkan percikan bara api yang siap mematangkan masakan dan siap untuk disajikan.

Tondatalusi dalam pengertian “tradisi”.

Secara filosofis tiga Tungku dalam pengertian tradisi sebagai berikut: sebagai simbol penyangga dan penyeimbang antara Adat, Agama, dan Pemerintah. Sebagai simbol pertemuan, dalam bahasa Kalili disebut nolibu. Tujuan daripada nolibu ini tidak lain adalah sebuah sikap kebersamaan untuk saling menyokong sebuah perencanaan, untuk pencapaian sebuah ke-bersama-an menuju KEDAMAIAN. Berikut penjelasan secara spesifik mengenai sistem tradisi Tondatalusi. “Tradisi” adalah ajaran yang diajarkan secara turun temurun dan memiiki ciri khas darah tertentu, Sistem tradisional antara lain individu dan masyarakat tidaklah merupakan objek, tetapi subjek yang turut menentukan arah kehidupan. Sistem Agama adalah sistem yang baku yang tidak bisa diubah agamalah dasar pijak kehidupan. Dan kebenarannya tak diragukan lagi. Sistem pemerintahan adalah sistem politik modern yang memiliki tiga unsur, di antaranya Demokrasi, Konstitusional, dan Berlandaskan hukum. Demokrasi adalah kebebasan individu dalam berpendapat, Konstitusional ialah aturan dasar yang ditempuh melalui kesepakatan. Sementara Hukum itu sendiri mewadahi perbedaan paham dan pandangan, serta mengatasinya dengan cara beradap dan damai, dalam aturan yang disepakati bersama.

Pembenturan Tondatalusi dalam konteks modern           

Gagasan ini tercipta dari kegelisahan serta rasa takut yang mencekam. keutamaan sistem sosial antar individu telah melangkah jauh dari aturan-aturan dan hubungan antara satu dengan yang lainnya, lebih bersifat impersonal menjadi lebih pre-dominan. Bahwa kebersamaan me-nampak-kan kesenjangan sosial,  semata-mata tidak ada lagi yang saling percaya, idealisme komunal kehilangan makna. Krisis identitas terus merebak kesegala pelosok desa, konflik berkepanjangan tanpa henti bahkan berpindah dari satu tempat ketempat lain, dari satu desa ke desa lain., tradisi Tondatalusi kenangan masa lampau yang terlupakan, akal dan pikiran beku sementara hati menjadi batu, tidak lagi menunjukkan sikap saling menerima, menghayati antara satu dengan yang lainnya, hilangnya sikap kebersamaan untuk saling menyokong sebuah perencanaan.

Alur cerita

Perfom ini berawal pada suara menyayat lengking, seiring tubuh kegelisah, tubuh takut, tubuh asing, seakan ingin mengurung diri jauh dari manusia lain. Namun pandangan ini keliru. Harus turun ke jalan menyampaikan perasaan bahwa kita adalah satu. Penyatuan ideologi itu tidaklah semudah tarian kata, butuh pengorbanan, butuh perjuangan dan nafas panjang. Menyatukan batu, satu demi satu dengan menampakkan tubuh lelah, tubuh lemas, tubuh lunglai. Tubuh terus memaksa diri untuk menyatukannya sehingga membentuk segitiga sebagai dasar pijak sebuah wadah. Lembaran kertas kosong bertuliskan “Apa yang kalian rasakan ketika mendengar kecamuk tikai suara-suara?” biarkan penonton menjawabnya dengan satu ukiran kata.

Tiga harus menyatu

Dua

Satu tersudut

Satu

Dua curiga

Menyatulah kembali tiga

 

Akal… Pikiran… Beku… Hati jadi Batu

Mencairlah… Leburkan menjadi satu

Hanyutlah…. bersama air… yang mengalir

 

Semiotika dalam pertunjukan.

Tiga tungku disimbolkan dengan 3 buah batu. Batu bentuknya padat dan keras menggambarkan sifat keras manusia.

Gentong adalah simbol atau wadah yang digunakan untuk menampung perasaan manusia ketika berhadapan dengan peristiwa realitasnya. Menghanyutkan gentong ke Rano Bungi…sebagai simbol membuang segala bentuk bencana.

Pesan Moral

Pesan moral dapat diartikan sebuah nasehat atau ajakan tentang ajaran baik dan buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan dan sikap manusia. Dengan demikian pesan moral dalam performance art “Kebersamaan Menghanyutkan Rasa Takut dan Derita”. Performance ini bukan hiburan yang memanjakan penonton, melainkan sebuah kritik terhadap realitas sosial. Kita sendiri seolah saling menelanjangi, saling membuka aib melupakan etika, hilangnya kebersamaan antara adat agama dan pemerintah untuk saling mengisi dan berbagi gagasan-gagasan demi kemajuan bangsa. Bukan merasa diri sok suci dari individu lain. Manusia hanya bisa saling mengingatkan, saling menopang demi terciptanya pembangunan karakter individu. Terwujudnya pembangunan karakter individu akan mewujudkan karakteristik suatu bangsa. Meskipun demikian kita tak dapat menyangkal bahwa kita tidak bisa lepas dari sistem-sistem yang telah dibuat dan telah disepakati bersama. Satu-satunya cara membuat sistem di dalam sistem, dengan sistem cinta. Hanya dengan sistem cinta tentu kita akan tersentuh untuk menjaga kelestarian, kekhasan, keunikan dan menghargai tradisi budaya di tanah Kaili.

Biografi Penulis

 

Moh.Nurdiansyah Lahir di kota Palu, 14 Oktober 1979 menikah dengan Nurul Jamilah, dikaruniai anak lelaki bernama Miftakhul Abdussalam. Pendidikan terakhir S-1 (satu) Teater Minat Utama Penyutradaraan Institute Seni Indonesia Yogyakarta.Tahun 2008. Mulai mengenal seni teater Tahun 1996, dan berperan dalam lakon “Sando”, karya Hidayat Lembang di Taman Gor Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 1997, pentas Naskah “Tomanuru” karya Musa Abd Kadir sebagai pemain. Tahun 2000, pentas teater dalam Festival Alimin Award naskah “Lysistrata” karya Sophoclas sebagai Walikota bertempat di Auditorium RRI Kota Palu meraih Aktor terbaik. Tahun 2001, berperan sebagai Alimin dalam naskah “DOR” karya Putu Wijaya. Tahun, 2003, pentas “Tomanuru” naskah dan sutradara Musa Abdul Kadir, dalam “Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta”. Tahun 2004, bergabung dengan sanggar teater Debur 21 Yogyakarta sebagai Aktor pentas di tiga Kota (Bandung, Surabaya, Yogyakarta). Naskah “Jangan Kau Culik Anak Kami” Sutradara dan penulis Alan Papin warga Negara Prancis.Tahun 2004 bergabung sekaligus sebagai salah satu pendiri teater Sawung Dupat. Tahun 2008 bergabung dengan sanggar Teater Lampu Pleret Yogyakarta.

Menyutradarai dan menulis naskah

Diawali Tahun 2004, dalam naskah “Parodi Taiganja” di pentaskan di Auditorium RRI Kota Palu. Tahun 2003, sebagai sutradara, pemain dan penulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala” di pentaskan dalam acara Artefak Donggala di Sulawesi Tengah. Sutradara dan penulis naskah “Tondatalusi” dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya pada Festival Soerabaya Djoeang. Tahun 2010, Sutradara dan penulis naskah “Balada Orang Sampah” dipentaskan di Taman Budaya Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 2011, menulis dan menyutradarai naskah “TARIAN KATA PEMIMPIN”, dipentaskan di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2011, menyutradarai dan menulis naskah Monolog “Tusuk Gigi”, dipentaskan pada hari Aids Se dunia di Gedung Balai Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2012, Menulis dan Menyutradarai Naskah “Panoto Muli”, dipentaskan di Gedung Olah Seni Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2012 kembali menyutradarai “Panoto Muli” dipentaskan pada acara temu teman di Kampus Stain Purwokerto.

Tahun 2006, sutradara lakon “Sahabat Terbaik” karya James Saunders dipentaskan di stage teater ISI Yogyakarta. Tahun 2006, sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #1 karya Jean Tardieu pentas di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, Sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #2  karya Jean Tardieu dipentaskan di Teater Arena ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara lakon “Sonata danTiga Lelaki” #3 karya Jean Tardieu di pentaskan di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara dan Aktor dalam lakon “Roro Mendut Jelas Salah” karya Wimbadi JP. Dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2009, Asisten Sutradara dan Stage maneger dalam naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bagdi Soemanto dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2010, Sutradara naskah “Lawan Catur” karya Keneth Arthur dipentaskan pada Festival Teater Pelajar Tingkat Nasional Se- SMA di IKIP PGRI Semarang dan mendapat tiga Nominasi (pembantu Aktor terbaik, Aktris terbaik, Penyaji terbaik). Tahun 2010, sutradara naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya dalam Festival Negarakreatagama. Tahun 2010.

 

Pada akhir 2010, menata Artistik dan Aktor dalam naskah “Awas” karya Putu Wijaya ditulis kembali dan disutradarai oleh Ibet pada acara “Mimbar Teater” di teater Bong Taman Budaya Surakarta. Tahun 2011 Menyutradarai dua naskah sekaligus,tema “Semalam Dua Karya”, yakni “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht. Terjemahan Frans Rahardjo. “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto.Tahun 2011, Menyutradarai naskah berbahasa Kaili “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi di pentaskan keliling di kota dan kabupaten. Tahun 2012 menyutradarai monolog “Topeng-Topeng” karya Rahman Sabur.

Selain Aktor dan sutradara teater, juga mendalami bidang Artistik, yakni Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Come and Go” di Kedai Kebun Yogyakarta. Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Kereta Kencana” karya Iogene Ionesco di Stage Teater ISI Yogyakarta.Tahun 2009, penata lampu pentas Monolog “Merdeka” karya Putu Wijaya pada Festival Kesenian Yogyakarta, di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2008, Penata panggung naskah “Abu” sutradara Daniel Exaudi dalam Tugas Akhir penyutradaraan di Sage Teater ISI Yogyakarta.

Dalam bidang sastra Tahun 2001, mengikuti “Lomba Cipta Puisi Mencari Jejak” dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Palu sebagai peserta. Tahun 2002,  menulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala” Tahun 2003 menulis Naskah Teater “Belenggu Air”, Tahun 2004  menulis naskah “Parodi Taiganja”,  Tahun 2009 Menulis naskah Teater “Tondatalusi”, , Tahun 2010,  menulis naskah “Balada Orang Sampah”, Tahun 2011 menulis naskah “Tarian Kata Pemimpin. Tahun 2011 Menulis Naskah Monolog “Tusuk Gigi”, Tahun 2012, Menulis Naskah “Panoto Muli”.

Prestasi yang diraih, Tahun 2000, sebagai Aktor terbaik Festival Alimin Award. Tahun 2001, Harapan 1 Lomba Cipta Puisi “MencariJejak”, Tahun 1999, Juara 1 lombacipta lagu pada Festival Musik Akustik di Kota Palu. Pengalaman dalam bidang Musik. Tahun 2001, bergabung dengan sanggar tari tradisi Cemara Vaino Kota Palu sebagai penatamusik tari. Tahun 2003, bergabung dengan Komunitas Seni Tadulako pentas music etnik Kontemporer “Kumpul Kempel Kampus” di Teater Kecil Surakarta, sebagai penabuh gendang, Tahun 2003, pentas music kontemporer “Lima Cara Lima Suara” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Tahun 2004, Ilustrasi music teater “Kereta Kencana” mayor Vocal dan suling, sutradara Erwin Sirajudin. Tahun 2004, Penata musik puisi “Mainang” karya Iyak dipentaskan dalam acara pentas perdana sanggar Sawung Dupat di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, penata musikalisasi puisi “Sepasang Pengantin” karya Iyak dalam acara temusastra UGM.Tahun 2011 Penata Musik Tari S-2 dengan tema lingkungan di sungai halaman Joko Pekik.Tahun 2011 Penata Musik Teater S-2 sutradara Silvi Purba (Dosen ISI).

2010 “Topogente”  (Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah)

Naskah Ashar Yotomaruangi Aktor Sutradara M.Noerdianza

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s