LOCAL ART INFO & NEWS

HALAMAN BELAKANG

188850_4341014576069_1405188882_n

Coming Soon!!!!
Producer, Screenplay, Editor, Director : Yusuf Radjamuda
Cast : Jay Radjamuda as SON, Aya Albar as MOTHER
Director of Photography : Taufiqurrahman Ufiq
Production Manager : Fakhrur Rauzi Ojii
Art Director : Fadli Daimaroto
Music Composer : Tangkilisan Adi
Sound Engineer : Ephal Albatati
Technical Support : Dhidy Lea, Dedy Riskyanto
Special Thanks To : M Azwan A Thayeb (atas pinjaman halaman belakangnya), Palu Rekam ( Vidieyanto Armansyah dkk atas pinjaman MIC-nya.

MENUJU FESTIVAL MONOLOG TINGKAT NASIONAL :

Komunitas Seni Lobo mementaskan naskah PRODO IMITATIO karya Arthur S. Nalan

prodo imitatio

Dewasa ini Seni Teater bukan hal tabu, baik secara istilah (eksistensi) maupun penyajiannya. Berbagai kalangan mulai dari lapisan bawah sampai atas bahkan mulai dari pelajar sampai mahasiswa bahkan khalayak umum telah dapat mengakui dan bahkan menikmati serta memberikan apresiasi terhadap pertunjukan teater. Hal ini terbukti dengan adanya pemahaman serta berubahnya sudut pandang mereka dari yang apatis menuju yang apresiatif dan kritis pada setiap pertunjukan teater digelar, serta dibuktikan dengan bentuk nyata geliat pergerakan dan pertumbuhan kelompok teater.

Dari suatu pengamatan 10 tahun terakhir dalam program seni pertunjukan khususnya teater yang diselenggarakan di Perguruan Tinggi Seni maupun beberapa Lembaga-Lembaga Kebudayaan yang ada di Indonesia melalui program-program rutin ditambah dengan pertemuan para pelaku teater dalam bentuk Festival Teater ditingkat Lokal, Nasional dan Internasional yang diselenggaraan di beberapa kota di tanah air,  kita dapat melihat telah banyak lahir aktor-aktor teater yang tampil di panggung pertunjukan.  Telah banyak ruang yang diberikan kepada para pelaku teater ditanah air untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka dalam satu panggung.

KEMAH TEATER JEMBER adalah sebuah Festival Monolog Tingkat Nasional dan Workshop Teater yang diselenggarakan oleh Masyarakat Seni Jember untuk memperingati Hari Teater Se-Dunia ke-52. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghadirkan semangat kreatif positif disertai proses laku cipta karya original inovatif  dalam pembebasan berkesenian yang bertanggung jawab dan mandiri, sebagai bentuk sikap kritis terhadap persoalan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.  Sulawesi Tengah mendapatkan kesempatan untuk menjadi penyaji pada event Festival Monolog dan Workshop Teater berskala nasional tersebut melalui Komunitas Seni LOBO. 

Komunitas Seni Lobo mengangkat tema Sosial Pendidikan yang miris dan masih terjadi di negara kita ini melalui naskah Monolog Prodo Imitiatio karya Arthur S. Nilan yang disutradarai oleh Ipin Cevin yang kini menjadi Ketua (Koordinator Program) di Komunitas Seni Lobo.  Ia mengungkapkan “masih banyak prodo di Indonesia yang rela mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan ijazah aspal”.  Prodo imitatio bercerita tentang seorang manusia paruh baya yang kehidupannya di masa kecil selalu dikelilingi oleh harta dan kemanjaan. Sehingga menimbulkan rasa malas untuk melakukan sebuah proses pendidikan. Kasih sayang orang tua yang berlebihan meradang dalam diri prodo imitatio. Akhirnya pendidikan pun menjadi lebih mudah dengan adanya uang yang berlimpah dari orang tuanya. Namun seiring waktu yang berjalan prodo imitatiopun tak mampu bersaing dalam hal pendidikan untuk meraih gelar S1. Rasa malu itupun mengalir dalam dirinya. dan akhirnya iapun menyingkirkan diri secara perlahan-lahan dan bergabung di UNIVERSITY OF ZUZULAPAN.

Alasan sang sutradara memilih naskah ini pada Festival Monolog Tingkat Nasional di Jember nanti, karena menurutnya ini akan menjadi singgungan berarti serta gambaran mirisnya sosial pendidikan yang masih terjadi sampai saat ini.  Memilih aktor Yudha Prawira, seorang mahasiswa Jur. Bahasa & Sastra, FKIP Untad yang tahun lalu menjadi Juara I Baca Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional di Mataram, diharapkan mampu memberikan penampilan terbaik pada event Monolog nasional tersebut.

Untuk itu, Komunitas Seni Lobo akan melakukan pre-event Monolog PRODO IMITATIO pada hari Sabtu, 16 Maret 2013 di Taman Budaya Sulawesi Tengah sebagai tahap awal untuk menguji proses yang selama beberapa minggu ini telah dilalui oleh sang aktor. Pre-event ini juga bermaksud sebagai Penggalangan Dana untuk keberangkatan menuju event tersebut karena seperti yang telah diketahui bahwa seni masih menjadi urusan yang kesekian sehingga belum ada perencanaan anggaran dari pemerintah daerah. Event ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur perkembangan teater di Sulawesi Tengah secara umum, serta dapat menjadi pendorong bagi aktor-aktor muda Kota Palu untuk lebih mneghargai sebuah proses dalam kesenian.

Pre-event ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Maret 2013 bertempat di Golni, Taman Budaya Sulawesi Tengah pukul 19.30 wita. Dengan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- sebagai bentuk donasi teman-teman terhadap Teater Kota Palu. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pre-event ini dapat dilihat di twitter : @seniLOBO, blog : www.komunitas-senilobo.tumblr.com | Infor tiket : 081245171531 (Ipin), 085241360960 (milda).

(Press Release oleh Komunitas Seni Lobo)

sumber : http://www.stepmagz.com

 

The Box : Logo ini sebagai Identitas Band kami!

Posted on 16 March 2013 by Soraya Pinta Rama

THE BOX LOGOArtwork

Salah satu kelompok musik yang sedang mendapat sorotan ramai di Palu saat ini, The Box, pada awal Maret silam baru saja memperkenalkan logo mereka. Sebuah logo yang akan menjadi identitas band bergenre rock alternative ini. Bisa jadi peluncuran logo ini adalah salah satu cara band ini untuk  lebih luas lagi memperkenalkan musiknya. Menurut manajemen The Box, logo ini penting untuk dibuat karena sebelumnya mereka tidak memiliki logo. Hal yang kemudian menjadi salah satu kendala ketika  mereka membuat mini album kedua  bertajuk “Sampai Mati”.

“Waktu pembuatan cover album ‘Sampai Mati’, kami sendiri bingung untuk menentukan cover depannya. Akhirnya, Matahari Juni yang menjadi desainer album kami waktu itu, melontarkan ide untuk menggunakan wajah Aci (vokalis The Box, Red) sebagai cover  untuk dibuatkan artwork sebagai pengganti huruf “O” pada kata The Box. Banyak orang kemudian menganggap itu logo The Box. Padahal sebenarnya bukan. Dari situ kemudian kami terpikir untuk merancang dan merilis logo The Box yang sebenarnya,” ujar Ujai, manager roadshow The Box, kepada Step!Magz.

The Box kemudian meminta Rio Oscar untuk membuat logo ini dengan sistem beli putus sebagai bentuk penghargaan. Proses pembuatan logo ini menghabiskan waktu sekitar dua pekan. “Kami tertarik mengajak Rio Oscar karena dia adalah sosok yang luar biasa sekali. Banyak karyanya yang juga dipakai oleh band-band di luar Kota Palu. Kami pun sangat bangga jika logo kami ini dibuat oleh putra daerah. Karena kami dan musik-musik kami berasal dari Palu, maka kami pun ingin mengajak kawan-kawan yang lain untuk sama-sama memajukan kota ini dengan keahlian yang mereka miliki,” lanjut Ujai.

Dalam mini album kedua ini, beberapa yang ikut terlibat adalah Ama (Moonjune) yang bertugas mendesain sampul album, Nubien mengerjakan foto para personel, Studio B90 sebagai tempat The Box rekaman, serta Aidil Haru dan Mamat yang bertugas menggarap mixing dan mastering  album ini.

ART WORK VERSI MOVIE (captured)

Makna dari logo ini adalah adanya penyegaran yang senantiasa dilakukan oleh band yang beranggotakan oleh Aci (vokal), Izat (perkusi, kakula, lalove, dll), Arwan (bas), Agus (drum), dan Arki (gitar). Hal tersebut mengacu pada ikon “refresh” yang terdapat dalam huruf “O” pada tulisan The Box. Arti dari ikon tersebut mencerminkan The Box selalu me-refresh dan menghasilkan ide-ide segar yang dituangkan dalam sebuah karya, serta selalu berinovasi dalam musiknya.

Tidak hanya logo, The Box juga bekerja sama dengan Kopi Jahe (Udin Naje) yang merupakan animator film pendek berjudul “Matahari” untuk menggarap versi animasi dari logo mereka. “Saat launching kami juga membuat logo dengan versi animasi. Keren banget dan kami sendiri tidak percaya kalo hasilnya akan seperti itu. Hahaha,” pungkas Ujai.(@lapintapintu)

sumber : http://www.stepmagz.com

 

RESENSI (film) WRONG DAY

wrong-day_highlight

Tidak ada anak yang girang ketika diberitahu bahwa Santa Klaus itu tidak ada. Tidak ada pula orang yang senang ketika dikata pekerjaan yang dilakukannya sia-sia, dicela bahwa idealismenya tak lebih dari sekadar utopia. Apalagi pada hari pertama kerja.

Namun itulah yang dihadapi tokoh polisi pada film pendek Wrong Day (2011) garapan sutradara asal Palu, Yusuf Radjamuda. Sang polisi muda—yang tengah bertugas untuk pertama kalinya—secara tidak sengaja terlibat percakapan dengan kriminal kelas teri yang dikejarnya. Dalam percakapan itu, sang kriminal mengungkapkan kekesalannya tentang polisi yang menurutnya “tebang pilih” saat hendak menangkap orang. Ia protes tentang koruptor-koruptor yang dibiarkan bebas berkeliaran. Sang polisi yang bangga akan profesinya itu merasa terhina, merasa dituduh tidak berguna. Ia pun mencengkram kerah baju si kriminal. Sang kriminal—yang terintimidasi—kemudian berteriak, “Saya kira hari Minggu polisi libur!”

Benturan antara tatanan ideal dengan tatanan realita memang senantiasa terjadi dalam kehidupan. Layaknya dua sisi mata uang yang saling berlawanan, nilai-nilai yang ideal tidak mungkin hadir tanpa didampingi nilai-nilai realita yang, ironisnya, selalu merupakan kontras dari nilai ideal. Tarik-menarik antara dua polar ini sering ditemukan ketika menjalankan suatu peran; lebih spesifik lagi, suatu profesi atau pekerjaan.

Ada orang-orang yang menyadari keberadaan konflik ini sejak dini, yaitu sejak mereka bahkan belum menjalankan profesi tersebut. Mereka sudah tahu apa saja yang dituntut masyarakat dari profesi yang akan mereka jalani. Misalnya saja, profesi dokter yang secara normatif dituntut untuk selalu menyembuhkan dan menolong mereka yang sakit. Namun, fakta sosial seperti mahalnya biaya pendidikan dokter membuat nilai ideal tentang dokter sebagai penyembuh yang diikat oleh sumpah Hipokrates pun bergeser. Profesi kedokteran kini lebih dititikberatkan pada aspek ekonomi: pada bagaimana mudahnya dokter mendapatkan uang, pada penetapan tarif praktek yang tinggi akibat adanya keinginan untuk “balik modal”. Sebagian mahasiswa kedokteran sudah tahu tentang fakta ini bahkan sebelum mereka lulus dan menjalankan praktek kedokteran. Bahkan, ada di antara mereka yang dengan sengaja memilih untuk menjalankan nilai-nilai yang terjadi di realita alih-alih nilai ideal. Akan tetapi, banyak juga yang baru mengetahui timpangnya kenyataan yang ada dengan imaji mereka selama ini ketika mereka sudah turun langsung ke lapangan. Sang Polisi termasuk kelompok yang terakhir ini.

Kenaifan tokoh polisi—yang merupakan perlambang kubu ‘ideal’—tercermin saat ia dengan polosnya bertanya kepada sang kriminal, “Kenapa kamu menolong saya?” Seolah, dalam alam pikirannya, baik dan jahat itu merupakan bentuk dikotomi mutlak tanpa ada area antara. Setegas hitam dan putih, tanpa adanya abu-abu. Polisi muda yang idealis itu kemudian diserang bertubi-tubi dengan pernyataan-pernyataan kekecewaaan kriminal yang hendak ditangkapnya itu. Hari ketika ia berusaha mulai menegakkan kebenaran malah berakhir menjadi hari di mana ia menerima tamparan realita pula. Mungkin inilah sebabnya film ini diberi judul Wrong Day (Hari yang Salah).

Sang kriminal sendiri merupakan representasi kubu ‘realita’ dalam film ini. Dialog-dialognya menjadi cermin bagi si polisi untuk melihat apa sesungguhnya pandangan masyarakat sekarang tentang profesi yang diagungkannya itu. Puncaknya, teriakan “Saya kira hari Minggu polisi libur!” pun menjadi lambang pandangan masyarakat yang meragukan kredibilitas polisi saat ini.

Akan tetapi, konflik ini gagal tergambarkan dengan apik karena akting tokoh ‘polisi’ yang belum memadai. Tidak terlihat sama sekali bentukan mimik orang yang harga dirinya terluka di wajah sang aktor. Emosinya hampa, hanya ekspresi di permukaan saja. Padahal, durasi film Wrong Day yang terhitung sangat pendek ini, tiga menit saja, menuntut dinamika emosi yang cepat dan kentara. Itulah yang menyebabkan film ini kurang “nendang” rasanya.

Wrong Day | 2011 | Sutradara: Yusuf Radjamuda | Negara: Indonesia

sumber : http://cinemapoetica.com/resensi/wrong-day-polisi-tanpa-area-antara/

A Zone To Be Closer

Posted on 10 March 2013 by admin

image (1) image (2)

Ada sedikit yang berubah di Raego Cafe pada Jum’at (8/3/2013) malam. Cafe yang terletak di jalan Katamso itu lebih ramai seperti biasanya dengan tambahan tenda dan kursi meja yang tertata rapi hingga ke badan jalan. Semua keriuhan ini ada di ajang bernama “A Zone To Be Closer”. Sebuah gelaran yang buat oleh salah satu brand rokok bekerjasama dengan Raego Cafe. “Event ini hadir karena melihat fenomena semakin meluasnya berbagai komunitas di Palu,” ujar Ilo sebagai pihak penyelenggara. Beberapa komunitas yang hadir malam itu di antaranya adalah komunitas musik, film, fotografi, otomotif, dan magician.

Sembari menikmati sajian dan makanan yang tersaji di Raego Cafe, pengunjung yang datang malam itu ditemani alunan musik dari kelompok Kakustik, Cinerama, Haru Langit dan The Box. Sesekali setelah penampilan musik diselingi juga dengan pemutaran film pendek karya sineas-sineas Palu yaitu “Umar Amir” (sutradara Anca Latif) dan Anganku Tinggi ke Bawah (sutradara Charles). Tidak ketinggalan suguhan pengocok perut yang dihadirkan oleh komunitas Standup Comedy Palu.

Ada hal yang menambah malam itu menjadi lebih menarik, yaitu pameran tunggal karya sketsa dari Udin atau yg lebih akrab disapa “Kopi Jahe”. Tidak kurang dari 20 karya yang ia tampilkan malam itu yang mengambil tempat di Hasan Bahasyuan Institute yang memang masih dalam lokasi Raego Cafe.

Dari konsep yg dibuat malam itu ada keintiman yang terlihat diantara komunitas-komunitas yang hadir. Hal ini juga merupakan tujuan dari event ini yakni sebagai ajang silaturahmi di antara berbagai komunitas yang ada di kota ini. (Pays)

sumber berita : http://www.stepmagz.com/2013/03/a-zone-to-be-closer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s