Slamet Abdul Sjukur

Slamet Abdul Syukur
mg_3842_1_1
Biografi
Slamet Abdul Syukur lahir tanggal 30 Juni 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Nama pemberian saat Slamet lahir adalah Soekandar, namun karena sering sakit maka ia berganti nama menjadi Slamet. Pada masa kanak-kanak, Slamet acap berkelahi dengan teman-teman sebayanya, karena dihina bahkan diludahi hanya karena kaki kanannya terserang polio saat berumur 6 bulan.  Namun, setelah ayahnya membelikan sebuah piano, Slamet kecil asyik bermain dengan teman barunya tersebut.

Tahun 1944 – 1945, Slamet mulai memiliki guru piano. Guru pertama yang mengajarnya adalah Nio, D. Tupan, pianis asal Ambon dan Paneda dari Filipina. Lalu dilanjutkan oleh Schaap, pianis dari Belanda, dan Josep Bodmer, asal Swiss dari tahun 1949-1952. Bakat musikalnya yang menonjol, membuat ia terpilih sebagai pianis pengiring siaran anak-anak PODO-MORO di RRI Malang dan RRI Kediri, di tahun 1948.

Pendidikan musik formal Slamet dimulai ketika ia terdaftar sebagai siswa Sekolah Musik Indonesia, Yogyakarta, setingkat konservatorium musik (SMIND Yogyakarta) dari tahun 1952-1956. Di sinilah Slamet A. Syukur mendapatkan guru-guru yang sangat mengesankan baginya, antara lain: Soemaryo L.E. untuk Pengantar Pengetahuan Musik serta Psikologi Musik, Nicolaj Varvolomeyeff, pemain cello dari Uni Soviet dan J. Bodmer guru  piano lamanya dari Swiss.

Karya pertamanya di tahun 1960 adalah  Point Contre,  karya pesanan dari  Radio dan TV Prancis. Atas beasiswa dari Prancis (1962-1963), Slamet melanjutkan pendidikan musik tingkat lanjut di Conservatoire National Supérieur de Musique de Paris dari sejumlah tokoh seperti, Jules Gentil (piano), Victor Gentil (musik kamar), ilmu harmoni (Georges Dandelot),  Madame Simone Plé Caussade (kontrapung dan fuga), Henri Dutilleux (teori komposisi). Ketika  belajar di École Normale de Musique de Paris (1962-1967), Slamet Abdul Syukur menerima pelajaran analisa music dari Oliver Messian. Tahun 1968, Slamet juga berkesempatan belajar singkat kepada Pierre Schaeffer dan kelompoknya Groupe de Recherches Musicales untuk music electro acoustic.

Slamet tinggal di Paris sampai tahun 1976. Atas desakan mantan gurunya Soemaryo L.E. dan sahabatnya Suka Hardjana, maka Slamet pulang ke Jakarta untuk  mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), sekarang Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga tahun 1987. Atas dorongan dan permintaan Dieter Mack komponis dari Jerman membuat Slamet memutuskan untuk  mengajar di Institut  Seni Indonesia, Surakarta, selama 6 tahun (2001 – 2006) dan  di Universitas Pendidikan Indonesia UPI), Bandung, dari tahun 2006-2009.

Dalam perjalanan karirnya Slamet menerima banyak penghargaan antara lain: OFFICIER DE L’ORDRE DES ARTS ET DES LETTRES, Prancis (2000), MILLENNIUM HALL OF FAME, American Biographical Institute (1998), PIONIR MUSIK ALTERNATIF, majalah GATRA (1996). Atas usaha penyebarluasan pendidikan musik, Slamet menerima MEDAILLE COMMEMORATIVE ZOLTAN KODALY, Hungaria (1983). Selain itu juga menerima PIRINGAN EMAS dari Academie Charles Cros, Prancis (1975), untuk penampilan Angklung di Festival Musik Folklor di Dijon dan PERTEMUAN MUSIK SURABAYA (1957): “Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik”.


Michael Asmara
Profil
Slamet Abdul Syukur, selain seorang komponis juga merupakan pendidik yang sangat aktif. Terbukti setelah kepulangannya dari Prancis, terjadi banyak sekali pembaharuan  dalam konsep pendidikan musik yang diterapkannya, terutama dalam hal komposisi (penciptaan). Apabila sebelumnya seseorang harus mendalami berbagai macam ilmu musik terlebih dahulu untuk bisa membuat sebuah karya musik, maka bagi Slamet Abdul Syukur hal tersebut di atas diletakkan pada urutan yang kedua ataupun  ketiga. Prinsipnya sering disebut MINIMAX, dari sesuatu yang sederhana atau minimal, menjadikannya sesuatu secara  maksimal dan kompleks. Selain itu juga dalam setiap karyanya, ia sering menggunakan system Kaballah  numerology,  Ferment spiral (r2 = ao) maupun matematik.

Slamet tidaklah puas jika anak didiknya hanya tahu dari satu sumber saja, maka tahun 1981, bekerja sama dengan IKJ, DKJ, TIM, Erasmus Huis, Doneamus dan Kedubes Belanda dia mengundang Ton de Leeuw  komponis Belanda,  untuk datang memberikan lokakarya, ceramah, dan konser bersama selama satu bulan. Sebagai akibat dari semua itu, maka dunia penciptaan di LPKJ/IKJ pada tahun-tahun tersebut tumbuh subur. Kini banyak para bekas muridnya dari berbagai lembaga pendidikan yang terjun di bidang pendidikan sebagai komponis murni, menerapkan konsep-konsep ataupun metode yang pernah diajarkannya. Oleh karena itu, Slamet A. Syukur bisa disebut sebagai “Bapak Musik Kontemporer Indonesia”, walau sebutan ini tidak terlalu disukainya.

Sebagai komponis, Slamet termasuk komponis yang bekerja sedikit lambat. Karya-karya musiknya banyak ditulis dalam waktu yang cukup lama. Minimal sebuah karya baru selesai dalam satu tahun, bahkan ada yang memerlukan waktu tiga tahun. Sementara dalam satu hari dia menghabisakan waktu tujuh belas jam untuk menuliskannya. Jadi untuk satu komposisi dia membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 6120 jam.

Karyanya yang pertama kali di pergelarkan di TIM Jakarta 1977 adalah Parentheses I+II (1972) atas pesanan ‘ Deutsch de la Meurthe Foundation’. sebuah karya multi dimensional (penari, kursi menggantung, cahaya lampu dan piano sumbat/prepared piano). Ini merupakan kali kedua karya ini dipentaskan. Pementasan yang pertama adalah di Paris tahun 1972.

Dalam karya ini Slamet mengajak penonton untuk menghargai sunyi, dan dengan menghargai sunyi maka bunyi menjadi sangat berarti, sesuatu yang sakral. Sementara disisi lain  hubungan antara tari, musik , kursi menggantung dan cahaya menjadi  tidak hanya  hadir untuk saling mengkait, namun masing-masing juga mencapai dimensi yang saling berbeda.

Parentheses I+II, selanjutnya diikuti dengan ParenthesesIII (1973-1975) untuk 4 kwartet: a. flute, oboe, klarinet dan basson, b. visual: 2 penari perempuan (kontemporer+tradisi Jawa), konduktor yang samar-samar mengikuti koreografi, patung raksasa, c. kwartet vokal ( soprano koloratura, narator bass bariton, kedua suara penari), d. string kwartet. Sajak oleh Ronald D. Laing, karya ini merupakan pesanan Kementerian Kebudayaan Prancis.

Kemudian pada waktu yang bersamaan  disusul oleh  Parentheses IV (1973) untuk, pelukis, lukisan dalam proses, 2 gitar listrik, perkusi, synthesizer, 2 penari perempuan (kontemporer+tradisi Jawa), Flute, piano sumbat, biolin, dan cello, pesanan untuk Festival Non Stop des Menuires  untuk siaran dokumentasi Film Gaumont, lalu ParenthesesV (1981), Parentheses VI (1983), dan  ParenthesesVII (1985- ), yang sedang dalam proses hingga sekarang.

Michael Asmara

II

Sjukur, Slamet Abdul (b. June 30, 1935, Surabaya, Java). Indonesian composer of mostly stage, chamber, vocal, and multimedia works that have been performed throughout Asia and Europe; he is also active as a scholar.

Mr. Sjukur studied piano privately from 1944–52 and studied at the Sekolah Musik Indonesia in Yogyakarta from 1952–56. He later studied analysis with Olivier Messiaen and organology with Madame de Chambure at the Conservatoire National Supérieur de Musique de Paris in 1962–63, on a grant from the government of France. He then studied chamber music with V. Gentil, composition with Henri Dutilleux, counterpoint with Simone Plé Caussade, harmony with Georges Dandelot, and piano with J. Gentil at the École Normale de Musique de Paris from 1962–67. He also briefly studied with Pierre Schaeffer and his Groupe de Recherches Musicales in Paris in 1968.

His many honors include the Médaille de Bronze from the Festival de Jeux d’Automne in Dijon (1974), the Disque d’Or from the Académie Charles Cros (1975, for a recording of Angklung) and the Zoltán Kodály Commemorative Medal in Hungary (1983). In more recent years, the magazine Gatra named him a Pioneer of Alternative Music (1996), he was inducted into the Millennium Hall of Fame of the American Biographical Institute (1998), he was given the title Officier de l’Ordre des Arts et des Lettres by the government of France (2000), and he was named a life member of the Akademi Jakarta (2002).

As a scholar, he has studied indigenous music, including the Indonesian folk-music style influenced by early Portuguese settlers Krontjong Toegoe in 1981, on a grant from the Ford Foundation. He later undertook research on the aesthetic affinity of Claude Debussy with the gamelan in 1989, on a grant from the government of France.

Mr. Sjukur is also active in other positions. He founded the philharmonic society Pertemuan Musik Surabaya in 1957, which featured monthly concerts and lectures from 1957–82, and was a founding member of the Alliance Française in Surabaya in 1960. He served as head of the music committee of the Jakarta Arts Council from 1977–81 and invited numerous composers and performers to Indonesia for concerts, lectures and workshops and organized the first festival of contemporary French music in Southeast Asia. He was later a founding member of the music foundation Yayasan Musik Laras in Surabaya in 1985 and of the composers union Asosiasi Komponis Indonesia (AKI) in 1994 and served as its director from 1994–99. He served as a board member of the Sekolah Musik Surabaya in 1987, gave a series of lectures for broadcast on Wereld Omroep in The Netherlands in 1987, produced two weekly contemporary music programs for Radio Suara Surabaya from 1991–97, and co-organized with the Indonesian Director-General for Culture a conference-festival of the Asian Composers League in Solo and Yogyakarta in 1999.

He lectured on various subjects at the Jakarta Institute of the Arts from 1976–87, where he also served as dean of its department of music from 1981–83. He has lectured for the post-graduate program of the art academy STSI Surakarta since 2000.

CONTACT INFORMATION

E-mail address: slakur@centrin.net.id

COMPLETE LIST OF WORKS

STAGE: Sangkuriang (miniature opera, libretto by Utuy T. Sontani), mixed chorus, 1958; Latigrak (ballet music, choreography by Frédéric Franchini), gamelan, tape, 1963; Parentheses VI, low-voiced comedian, 2 dancers, flute, 2 guitars, whistling tupies, some gamelan instruments, 1983; Migrasi (music theatre work, text by Afrizal Malna), 1993; Spiral, female dancer, flute, piano, 1993; AwangUwung (dance music, choreography by Suprapto Suryodarmo), 2 gender (Indonesian metallophones), 1994; Marsinah (incidental music, play by Ratna Sarumpaet), specially-made instruments, 1994

ORCHESTRAL: Ōm, 14 strings, 1995; Concerto, arpegina (5-string viola), string orchestra, 2002; 100 ABG BABU, bamboo blocks (100 amateur players), 2003; GameLand (Tsunami), mixed slendro-pelog Sundanese gamelan, 2004–05; GameLand 2 (Homage to Ton de Leeuw), slendro-tuned Javanese gamelan, 2005

CHAMBER MUSIC: Bulan Hijau, clarinet, piano, 1960; Point contre (players also speak), trumpet, harp, percussion, 1969; Ronda Malam, large number of angklung (Indonesian bamboo rattles), 1975 (section of Angklung; may be performed separately); Kangen, 3 shakuhachi (bamboo flutes), kokyu (violin), Japanese percussion, 1986; Suwung, flute, 1988; JiLalaJi, 2 flutes (both + percussion), 1989; CucukuCu, guitar, 1990 (also version for 5 pianos 20 hands); Lesung, synthesizer, 1992; UwekUwek, 2 players (exploring their mouths), 1/2 djembé (African drums), 1992; Minimax, variable spatial ensemble, 1993; Jawara, percussion, 1993; Gelandangan, karunding (bamboo jaw harp), tape, 1998 (also version for female voice, karunding); ‘The Source, Where the Sound Returns‘, clarinet, cello, piano, 1999; Dedicace1, arpegina/viola, 2000; PahaThigh, French horn, 2 trumpets, trombone, tuba, 2005–06

CHORAL: Angklung, mixed chorus (all voices + angklung), large number of angklung, 1975 (one section may be performed separately: Ronda Malam); Muni, mixed chorus (all voices + karunding), 1998

VOCAL: Bunga, Weekend and Kabut (texts by Sitor Situmorang, Toto Sidarto Bachtiar), voice, piano, 1960; Mais, ces oiseaux, mezzo-soprano, baritone, clarinet, violin, viola, cello, 1967; Parentheses V (text by Chairil Anwar), mezzo-soprano, 4 celli, 1981; Gelandangan, female voice, karunding, 1999 (version of work for karunding, tape); Sunyi, soprano, 2 cellular phones, small orchestra, 2002

PIANO: Tobor, 1961; Svara, 1979; NZ, prepared piano, 1992; CucukuCu, 5 pianos 20 hands, 1992 (version of guitar work); YuTaha, 1997

ELECTROACOUSTIC: Astral, tape, 1984

MULTIMEDIA: Parentheses III (dance music, choreography by Denis Carrey), female dancer, suspended chair, piano, lights, 1972; Parentheses IV, 2 dancers, flute, 2 electric guitars, violin, cello, prepared piano, synthesizer, percussion, live painting, 1973; Parentheses III (text by Ronald D. Laing, choreography by Samuelina Tahija; dancers also speak), coloratura soprano, male speaker, 2 dancers, conductor-choreographer, flute, oboe, clarinet, bassoon, string quartet, large sculpture (by Elizabeth Gleason), 1975; Jakarta 450 Tahun (environmental work: unlimited sounds of Jakarta), 1977; Wangi, female dancer, gamelan, lights, 1999

FILM SCORE (DIRECTOR): Aku Perempuan Dan LakiLaki Itu, 1996 (Aria Kusumadewa, Afrizal Malna)

Source :

http://www.composers21.com/compdocs/sjukursa.htm

http://www.kelola.or.id/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s