Festival Bunyi Bungi 2013

_MG_0437

Bungi menurut masyarakat kaili adalah sebuah daratan yang terbentuk karena  surutnya air sungai lalu kemudian lahan tersebut difungsikan sebagai area perkebunan tradisional, tambang pasir pemukiman, dll oleh masyarakat tersebut.  Pelaksanaan “Festival Bunyi Bungi 2013” merupakan gagasan dari beberapa anak muda di Sigi, tepatnya di desa kabobona  kecamatan dolo selatan, keberadaan bungi yang dekat dengan pola hidup masyarakat local yang kemudian menghilhami beberapa pemuda di sanggar Rano Bungi untuk  menggagas FBB sebagai titik awal penciptaan karya-karya yang kemudian dipresesentasikan pada satu venue di Rano Bungi, yang kemudian di sebut Festival Bunyi Bungi.

Pemuda dari beberapa sanggar seni khususnya dari wilayah sibalaya hingga kalukubula  bertemu, menyatukan gagasan-gagasan untuk mengemas Festival Bunyi Bungi yang digelar 16-17 febuari 2013.  Tepat pada pukul 15.45 menit  Opening ceremony FBB dibuka dengan kolaborasi dari masyarakat adat sibowi dan Siswa siswi SD kota rindau dengan menampilkan tari raego, selanjutnya secara resmi dibuka oleh Bupati Sigi, Sulawesi Tengah, Aswadin Randalembah, dalam sambutannya bupati sigi mengatakan Festival Bunyi Bungi menjadi bagian yang sangat penting demi mewujudkan visi misi Kabupaten Sigi yang sangat menjunjung kebudayaan dan kearifan local sehingga terwujudnya sigi yang berbudaya dan beradab, Bupati Sigi manambahkan selain itu Festival Bunyi Bungi Bisa menjadi Ruang para Seniman untuk mempresentasikan karya-karya seninya.

Tepat pukul 18.30 pertunjukan seni berlangsung selama dua hari, ada sekitar 22 penyaji terdiri dari sanggar seni masyarakat dan pemuda sigi, Kota Palu, buol, toil-toli, Makassar, Bali, chilli dan Australia. Festival Bunyi Bungi yang mengambil konsep alam terbuka menarik perhatian masyarakat sekitar, hal ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, seperti diketahui festival seni budaya seperti FBB baru pertama kali diselenggarakan di desa mereka.

Ketika ditanyai ke salah satu panitia, awalnya mereka ingin menyelenggarakan pengukuhan perekrutan sanggar seni didesa kabobona, ketika hal ini diteruskan pada izat yakni seorang pemuda yang juga di dikenal  sebagai pelaku seni, akhirnya pengukuhan ini berubah konsep menjadi Festival Bunyi Bungi apalagi melihat rano bungi yang memungkinkan untuk menjadi ruang FBB berlangsung.

Festival bunyi bungi menjadi perhatian besar masyarakat ketika ada dua seniman luar negeri juga mempresentasikan karyanya. Patricio seniman tradisi yang berasal dari chilli memainkan goda alat music petik khas chilli, sedangkan Ron Reeves asal Australia memainkan tarogato dan furulya yang ditampilkan secara inovatif menggunakan alat perekam modern sehingga meskipun sendiri ia bisa memainkan semua alat music hingga menjadi satu instrument utuh untuk didengar penonton, semua penonton memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap Ron.

Seperti tagline FBB, Malam itu hati dan tubuh pemuda menyatu, mengganti dumdum dan busur menjadi bunyi, semoga ini akan terus menjadi ritual tahunan para pemuda, seniman, masyarakat, dan pemerintah kabupaten sigi. (@lapintaintu)

sumber : http://www.stepmagz.com/2013/02/festival-bunyi-bungi/