Tentang FBB

FESTIVAL BUNYI BUNGI 2013,

Mengeksekusi Mimpi dan Geliat Ekspresi

 

  1. A.   Semacam Pengantar FBB 2013

Nilai ekspresi  yang dikandung oleh sebuah karya seni menjadi nilai yang kemudian mampu bertindak sebagai pembeda antara kreator seni yang satu dan yang lainnya. Sedikit berbeda dengan proses pencapaian estetika karya seni yang memang menuntut persepsi serta daya nalar sebagai alat ukur menuju titik estetika itu sendiri, pada sisi ekspresi bukan konsep pemikiran yang memainkan “peran utama” melainkan emosi, atau sebutlah dia sebagai intusi. Situasi inilah yang memicu perbedaan perbedaan karya sekalipun dia berdasar pada kaidah estetika yang sama. Sebab Peranan ekspresi seorang pengkarya akan sangat menentukan sejauh mana pengembaraan penafsiran dia terhadap dasar gagasan maupun azas estetik yang ingin dicapai.

Dalam perkembangan kesenian modern kita sering menemukan realita bahwa kebebasan ekspresi begitu disanjung dan sangat menonjol, bahkan kaidah  kaidah estetik lama tidak lagi digunakan seutuhnya sebab dalam proses kreatif yang dijalani, kreator lebih cenderung dapat menemukan kaidah estetis yang dianggap lebih sesuai dengan garapannya. Lewat pertimbangan pertimbangan yang berawal dari subjektivitas individu pengkarya inilah kemudian lahir patron patron baru dalam pengkaryaan. Tak perlu sedini mungkin menjadi teori teori yang mengandung inovasi dan universal, yang jelas kebebasan ekspresi sangat memungkinkan menjadi pemicu bergulirnya pembaharuan metode dalam menciptakan karya.

Barangkali yang perlu kita camkan bahwa seliar apapun eksperimentasi dalam proses penciptaan akan lebih bijak jika dia tetap berpijak pada akarnya. Menafsir ungkapan ini akan menempatkan kita pada posisi yang unik, dimana rasa bijak dan liar bercampur satu dalam diri kita. Saya menyebutnya sebagai “kebebasan yang arif”. Persoalan takaran mana yang akan mendominasi rasa dalam karya kita, itu akan bergantung lagi pada tekhnis,cara pandang serta kebutuhan kita terhadap dua hal tersebut ; Bijak dan Liar. Sekali lagi tak ada alat yang mampu mengukur tentang tepat atau tidaknya emosi seni, sebab itulah saya lebih bersepakat bahwa tak ada salah benar dalam pencipataan (baik metode maupun hasil). Satu satu nya kesalahan adalah ketika kita sudah mengangkat bendera putih kemudian berkata “saya pensiun berkarya” atau “saya adalah veteran panggung”.

 

  1. B.   TENTANG VESTIVAL BUNYI BUNGI

          (Kesenian, Pemuda dan Lokalitas)

Kesenian dalam bentuk pertunjukan maupun rupa merupakan media efektif untuk mengasah segala bentuk kecerdasan emosi yang memang hakikinya telah dimiliki oleh setiap manusia termasuk para generasi muda. Menyoal kaum muda, mereka adalah generasi yang cenderung memiliki potensi emosi yang agresif bahkan labil. Potensi emosi tersebut kemudian akan menjadi dasar bagi setiap gerakan gerakan dan lompatan pemuda. Dengan situasi ini, maka yang dibutuhkan sesungguhnya adalah media pengarah agar gerakan dan lompatan yang dicerminkan lewat pola laku ini dapat tertuju pada  hal-hal yang mempunyai spirit positif. Kesenian adalah salah satu hal yang dapat menjawab tantangan ini dengan riil, sebab untuk melahirkan karya dalam kesenian tidak hanya dituntut sebatas kemampuan individu secara tekhnis dalam mengolah dirinya untuk memenuhi kebutuhan keterampilan namun juga bagaimana kemudian setiap kelompok maupun individu memiliki kemampuan konseptual dalam mendeskripsikan dan menuangkan gagasannya kedalam betuk karya. Spesifiknya, bahwa fungsi seni adalah  menjadi media cerna kehidupan sekitar bagi para pekerjanya.

Sifat kesenian yang mengandung unsur dinamisasi yang begitu tinggi juga akan mengajarkan bagi setiap pelakunya untuk terus melakukan penafsiran serta pemaknaan terhadap setiap jengkal arus globalisasi, Sifat dinamis ini jugalah yang tidak pernah membuat kesenian statis dalam satu bentuk baku karena diakibatkan oleh kedalaman kreatifitas pekerja seni itu sendiri. Kreatifitas tidak akan mengenal siapa, dimana dan berapa jumlah orang orang yang melakukan prosesnya. Dia akan datang bagi setiap orang yang menginginkan dia untuk datang. Kemauan dan kesadaran untuk mengembangkan kreatifitas inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran kami untuk menggagas sebuah peristiwa kebudayaan lewat moment moment kesenian yang bersandar pada nilai lokalitas.

Bungi dalam defenisi lokal masyarakat kaili berarti sebuah daratan yang terbentuk karena surutnya air sungai lalu kemudian lahan tersebut difungsikan sebagai area perkebunan tradisional,tambang pasir bahkan pemukiman penduduk. Secara geografis wilayah kabupaten Sigi hingga kota palu terbelah oleh aliran sungai dan anak anak sungai, ketika tiba musim kemarau maka penduduk lokal yang daerahnya dialiri sungai akan menggunakan jalan air yang telah mengering untuk berkebun. Hal inilah menyebabkan hampir disebahagian besar desa desa kabupaten Sigi dan beberapa wilayah kelurahan di Kota Palu memiliki bungi.

Bungi sangat dekat dengan sistem kehidupan sosial masyarakat kaili. Mulai dari sistem pertanian,kekerabatan sampai pada kebudayaan, dimana masyarakat kaili mempunyai ritual yang sangat bergantung pada aliran sungai seperti no ra keke,no ra binangga pompaura dan lain lain. Kenyataan terhadap dekatnya keberadaan bungi dengan pola hidup masyarakat lokal kemudian mengilhami gagasan pelaksanaan “Festival Bunyi Bungi”. Dalam festival ini, bungi akan menjadi sebuah titik awal penciptaan dari karya karya yang akan di presentasikan dalam Festival Bunyi Bungi. Bungi akan menginspirasi pengkarya dan sebaliknya pengkarya akan mengapresiasi segala sesuatu yang berhubungan dengan bungi. Tidak hanya sisi kebendaan atau fisik dari bungi tapi segala bentuk peristiwa yang kemudian menjadi ciri maupun kebudayaan masyarakat sekitar bungi tersebut.

Dalam Festival bunyi bungi tidak ada batasan tafsir terhadap bungi. Bentuk pertunjukan yang lahir dari hasil interpretasi tersebut pun diharapkan terbebas dari patok patok yang kadang mengikat ketika kita hendak melakukan eksperimen apapun terhadap segala peristiwa yang bersangkutan dengan bungi.

Barangkali ini dulu yang bisa saya deskripsikan terhadap gagasan awal penyelenggaraan Festival Bunyi Bungi. Semoga gagasan ini mampu menjadi media untuk mengeksekusi mimpi atas kondisi kami di tanah Sigi sekaligus geliat seninya kedepan. Kami yakin, dengan menyaksikan parade ekspresi dari kawan kawan penyaji akan menjadi media pembelajaran terhadap kekayaan metode penggarapan karya seni. Salam Budaya,Salam Kreatif !!!

 

IMG_7829

Founder & Artistic Directer FBB,

Izat Gunawan.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s